Anak – Anak, Orang Tua yang Sekarat, dan COVID-19

Anak – Anak, Orang Tua yang Sekarat, dan COVID-19

Pengantar Mingguan

Hak anak untuk terlibat dalam hal – hal yang mempengaruhi mereka diabadikan dalam Konvensi PBB tentang Hak Anak. Selanjutnya, anak – anak memiliki hak untuk menghormati kehidupan keluarga mereka (Pasal 8, Undang – Undang Hak Asasi Manusia 1998 dan Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia). Kematian orang tua selama masa kanak – kanak adalah pengalaman yang mengubah hidup, dengan 111 anak – anak Inggris kehilangan orang tua setiap hari. Di Inggris ada lebih dari 64.000 kematian berlebih yang terkait dengan COVID-19.

Setiap orang yang meninggal adalah kerabat seseorang, seringkali dengan jaringan keluarga termasuk anak-anak. Kematian orang tua bisa sangat emosional dan keluarga sering kali ingin melindungi anak-anak dengan pengecualian. Namun, tidak terlibat dalam usia dan cara yang sesuai dengan perkembangan dapat berdampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan mereka (Parsons, 2011).

Berkabung masa kanak – kanak meningkatkan risiko hasil yang merugikan pada masa remaja dan dewasa (Kissil, 2016). Untuk meminimalkan risiko ini, para profesional akhir hayat mendukung keluarga untuk melibatkan anak – anak ketika orang tua sedang sekarat. Organisasi seperti Macmillan, Marie Curie dan Child Bereavement UK telah mengembangkan panduan. Norwegia dan Swedia telah menempatkan kewajiban profesional perawatan kesehatan untuk melibatkan anak-anak ketika orang tua memiliki penyakit yang mengancam jiwa (Karidar et al, 2016).

Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di British Journal of Child Health, selengkapnya KLIK DISINI