Vaksinasi Masa Kanak – Kanak: playing catch-up

Vaksinasi Masa Kanak – Kanak: playing catch-up

Pengantar Mingguan

Pandemi COVID-19 memiliki efek tidak langsung yang sangat besar pada kesehatan dan sistem perawatan kesehatan di seluruh dunia, dengan salah satu yang paling parah terkena dampak adalah layanan imunisasi rutin anak.

Sebuah laporan baru oleh WHO dan UNICEF, yang diterbitkan pada 15 Juli, menguraikan secara gamblang akibat pandemi pada vaksinasi anak – anak di seluruh dunia. Cakupan vaksin dosis ketiga terhadap difteri, tetanus, dan pertusis (DTP3) turun menjadi 83% pada tahun 2020, dari 86% pada tahun 2019, sehingga hampir 23 juta anak tidak divaksinasi atau kurang divaksinasi—hampir 4 juta lebih banyak pada tahun 2020 daripada di 2019.

Cakupan global juga menurun untuk vaksin lain, termasuk virus papiloma manusia (dari 15% menjadi 13% anak perempuan berusia 9–14 tahun dari 2019 hingga 2020) dan untuk campak (dari 86% menjadi 84% untuk campak dosis pertama- mengandung vaksin [MCV1]), membuat 3 juta lebih anak berpotensi rentan terhadap campak. Visi global untuk vaksin—sebagaimana ditetapkan dalam Agenda Imunisasi 2030 yang diluncurkan pada April 2021—adalah membuat vaksinasi dapat dicapai oleh semua orang, dimana pun pada 2030.

Agenda tersebut menekankan bahwa investasi dalam penelitian vaksin di masa depan, dan pengiriman internasional yang efektif dan adil adalah penting untuk keamanan kesehatan global. Intervensi berbasis data adalah salah satu prinsip inti agenda untuk sukses, dan peneliti menyambut bukti yang akan menginformasikan upaya menuju kesetaraan global untuk vaksinasi anak, termasuk studi tentang akses ke layanan, hambatan untuk mengambil, dan inovasi pengiriman vaksin seperti teknik bebas jarum.

Artikel ini dipublikasikan pada 2021 di The Lancet Child and Adolescent Health, selengkapnya https://www.thelancet.com/journals/lanchi/article/PIIS2352-4642(21)00241-8/fulltext