Reportase Fornas KIA Hari ke 3 - 27 Oktober 2018

Knowledge Management dalam SDG dan Prospek Kerja Sama Perguruan Tinggi dengan Pengambil Kebijakan

Sesi plenary 2 yang dilaksanakan pada Sabtu, 27 Oktober 2018 mengangkat topik “Knowledge Management dalam SDG dan Prospek Kerja Sama Perguruan Tinggi dengan Pengambil Kebijakan” membahas pentingnya knowledge management dan peran perguruan tinggi dalam community of practice (CoP). Acara ini merupakan sesi terakhir hari ketiga dalam forum nasional kesehatan ibu dan anak yang diadakan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK - KMK UGM dan Kementerian Kesehatan RI di Gadjah Mada University  Club (UC) Hotel UGM.  Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh peserta kegiatan yang terdiri dari staf dinas kesehatan berbagai daerah, peneliti KIA, mahasiswa, dan pemerhati kebijakan kesehatan. Pembicara sesi ini adalah dr. Anung Sugihantoro, M.Kes (Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI), K. Weeks (Jalin USAID), dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D (Universitas Gadjah Mada). Sesi terakhir ini dimoderatori oleh dr. Meineni Sitoresmi, Sp.A(K)., Ph.D.

Pembicara pertama, dr. Anung Sugihantoro, M.Kes, menjelaskan pembangunan SDGs dalam sektor kesehatan dan apa saja peran perguruan tinggi. dr. Anung juga menjelaskan bahwa manajemen organisasi penting dilakukan untuk memperbaiki perilaku organisasi berdasarkan bukti. Adapun tantangan manajemen pengetahuan di organisasi antara lain menuliskan know how, melakukan replikasi, modifikasi, menyampaikan ide perubahan atau esensi perubahan yang terjadi. Hal ini memerlukan peran akademisi dari perguruan tinggi untuk menuliskan sebuah kejadian menjadi bukti ilmiah dan mengkomunikasikan bukti tersebut. Perguruan tinggi memiliki peran dalam policy development, melalui peningkatan upaya promosi kesehatan, dan program improvement, melalui pengembangan program. Selain itu dalam konteks penelitian, kebutuhan penelitian memerlukan dua hal, yaitu operational research dan policy research.

Pembicara kedua adalah K. Weeks dari Jalin USAID yang memfokuskan pembahasan mengenai peningkatan kematian ibu dan bayi di Indonesia. K. Weeks menyatakan meskipun Indonesia memiliki banyak sumber daya, namun masih menemui tantangan kesehatan ibu dan anak. Ada kesenjangan yang besar antara jumlah sumber daya yang ada dengan tantangan untuk mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak. Kementerian Kesehatan dan Bappenas perlu bekerja sama menyusun kebijakan kesehatan ibu dan anak hingga tingkat daerah berdasarkan bukti. Kuncinya yaitu mengoptimalkan sumber daya yang ada dibandingkan menambahkan sumber daya baru.

Pembicara ketiga, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D menjelaskan penggunaan prinsip knowledge management dan Community of Practice. Prof Laksono menegaskan knowledge management dapat menjadi aset yang dapat digunakan untuk mempraktekkan suatu ilmu. Sedangkan, CoP merupakan sekelompok orang yang secara aktif dan sengaja mendiskusikan minat yang sama, dalam konteks ini berkaitan dengan stunting, KIA dan KB. Kondisi saat ini sudah banyak pengalaman dari berbagai penelitian dan proyek. Namun belum terdokumentasi dengan baik dan belum ada pembahasan untuk ekstensifikasi ke berbagai tempat. Kuncinya adalah bagaimana menggabungkan pengalaman bersama dan berdiskusi menyelesaikan masalah.

Penyusunan kebijakan ini merupakan proses sistematis dimana anggota CoP memberi ide menyusun kebijakan. Dalam CoP, perguruan tinggi dapat ikut berpartisipasi melalui penelitian, melakukan advokasi, sebagai konsultan dalam pelaksanaan kebijakan. Beberapa tahun terakhir, UGM telah bekerja sama dengan berbagai daerah untuk menyusun kebijakan, salah satunya adalah manual rujukan. Dukungan telematika untuk CoP dapat dilakukan, baik melalui situs jaringan dan di luar jaringan.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dimoderatori oleh dr. Meineni Sitoresmi, Sp.A(K)., Ph.D. Peserta terlihat cukup aktif dalam proses diskusi yang membahas beberapa hal, antara lain terkait mutu pelayanan di era JKN, peran perguruan tinggi swasta terkait isu kesehatan, serta tantangan keberlanjutan program. Dalam diskusi ini, K. Weeks menambahkan dalam CoP, keterampilan komunikasi profesional diperlukan untuk dapat menjalin kerja sama yang baik dalam penelitian dan penyusunan kebijakan yang lebih baik. Setelah pertemuan ini, diharapkan ada pembentukan CoP yang dapat memberikan rekomendasi dalam penyusunan kebijakan. Kemudian, telekomunikasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertemuan semacam ini di kemudian hari.


Reporter  : Yuditha Nindya Kartika Rizqi

Best Practices: Penggunaan Evidence untuk Pengambilan Keputusan

Pelaksanaan seminar hari ke-3 dibuka dengan menampilkan 4 pembicara dan kemudian bertindak sebagai pembahas yakni dr Prof. dr Bhisma Murti, MPH, M.Sc, Ph.D (FKM Universitas Sebelas Maret Surakarta) dan Prof. dr. Moch. Hakimi, Sp.OG, Ph.D (FKKMK Universitas Gadjah Mada). Pemaparan pertama dibuka oleh Pak Novrizal selaku perwakilan dari BKKBN dengan membahas terlebih dulu mengenai pengalaman kerja sama BKKBN dengan melihat  2 sisi yang ada di manajemen mengenai demand creation dan suply side, yang kemudian berkembang  ke area konseling. Pengalaman mengelola 3 hal yakni  mengenai 1) Sensus, baik yang dikumpulkan oleh BPS dan BKKBN (BKKBN akan menghasikan data mikro), 2) Survey yang dilakukan dengan BKKBN seperti survey demografi keluarga berencana.  3) Riset mengenai sebuah pusat penelitian kependudukan, keluarga berencana dan keluarga sejathera.

Berikut sumber data untuk indikator kependudukan, KB, kesehatan dan keluarga sejahtera yakni dengan SP, SUPAS, SUSENAS, SDKI (1987-2017), PMA 2020 (2015 dan 2016), Survei RPJMN/SKAP (2016 dan 2017), pendataan keluarga. Ditekankan juga bahwa bagaimana menyajikan data dengan baik. Sehingga data tidak lagi overlaping dan inkosisten yang bisa mengakibatkan berbeda dari satu dengan yang lainnya. Lebih lanjut pemaparan disampaikan oleh dr. Yulianto Prabowo, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bahwa sudah banyak upaya dari sisi pembiayaan dan selama ini hasilnya belum menggembirakan sehingga diperlukan strategi yang memilki daya ungkit untuk menurunkan AKI, AKB, dan stunting di jawa tengah.

Hal yang menggelitik yakni disampaikan bahwa dari data yang ada bahwa pertambahan SPOG tidak berhasil menurunkan AKI, kemudian rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pertolongan menjadi tempat kematian ibu dan bayi. Simpul permasalahan sangat banyak. Namun dengan beberapa penelitian, pihak dinkes sudah banyak melakukan pengambilan keputusan berdasarkan evidence based, salah satunya ialah intervensi program khususnya program kesehatan prioritas: AKI, AKB, AKABA, TB, HIV-AIDS, PTM, dst dan inovasi program 5NG, OSOC, BUSER JENTIK, dan seterusnya.

Hal senada juga disampaikan oleh drg. Inni perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY mengenai penggunaan evidence dalam pengambilan keputusan. sehingga beberapa program sudah dijalankan yakni membuat manual rujukan KIA yang disesuaikan dengan kebijakan, Audit Maternal Perinatal (AMP) dengan melibatkan lintas profesi (Dinkes, faskes, obsgyn, spesialis anak, ahli penyakit dalam dan ahli jantung), Antenatal Care Terpadu berkualitas, Peningkatan kualitas kunjungan ibu hamil (K4), dengan peningkatan kualitas ANC sesuai standar (10T), pendampingan ibu hamil one student one client (OSOC) bekerjasama dengan perguruan tinggi, melakukan skrining jantung pada anak sekolah (SD/MI) bekerjasama dengan FKKMK UGM/RS Sardjito

Sebagai wilayah dengan kematian ibu terendah di Yogyakarta hal ini merupakan tantangan yang berat seperti yang disampaikan dr. Kogam dari Dinas Kesehatan Kulon Progo karena penyebab kematian sudah semakin sulit karena disebabkan oleh penyebab tidak langsung. Salah satu evidence yang sudah dijalankan yakni penggunaan buku KIA merupakan kebijakan dalam upaya pemantauan kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena buku KIA merupakan satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun, termasuk pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak dan KB.

Selanjutnya pembahas memberikan pandangannya terhadap materi yang disampaikan oleh para pembicara bahwa secara umum penyaji sudah menerapkan evidence base policy making bahwa bukti sudah digunakan pada tahap pembuatan kebijakan, mulai dari menentukan agenda,  perumusan kebijakan, pengambilan kebijakan, implementasi dan evalausi. Beberapa hal yang harus diperhatikan bahwa penyaji kurang memprhatikan nilai-nilai dari populasi sasaran. Perlu mengetahui bagaimana kepuasan terhadap layanan yang diterima pelanggan. Untuk sampai pada kesimpulan efektif terlalu cepat pada kesimpulan bahwa intervensi efektif yakni dengan mengunakan sistematik review atau instrumen kuasi. Tetap perlu dilakukan evaluasi dan bukti juga diperoleh dari evaluasi. Riset evaluasi harus dengan desain yang bagus, bisa menggunakan kohot retrospektif agar bukti menjadi lebih juga bisa menggunakan back analysis. Dengan regresi linear multi level untuk bisa dilihat pengaruh kabupaten kota

Sesi dilanjutkan oleh Prof Hakimi bahwa untuk BKKBN tantangannya adalah berkembang yang disebut big data kalau bisa dilink=kan dengan data BPJS dan Kemenkes akan menjadi data besar yang bisa dijadikan evidence. Untuk Jateng  dan DIY jika hanya dengan menambah SDM tidak efektif menurunkan AKI AKB karena terjadi pergeseran kematian AKI AKB. Sejauh mana sudah memanfaatkan evidence yakni dengan kriteria yang b;isa digunakan untuk menilai kriteria rekomendasi, 2. Didukung oleh rekomendasi yang kuat, 3 besarnya manfaat yang didapati (manfaat non kesehatan perlu juga dilihat) contoh manfaat konrasepsi tidak hanya mencegah kehamilan tapi juga yang lainnya.  Bahwa kebijakan itu ada efek yang merugikan, mudah diimplemntasikan namun biaya dari implemntasi itu juga perlu dipikrkan.


Reporter: Andriani Yulianti, MPH

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Jl. Medika - depan LPPT UGM, Senolowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

LIHAT DIPETA >

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2