REPORTASE FORNAS KIA HARI II


FORNAS KIA 5Menjalin Kerjasama Para Pemangku Kepentingan di Pusat dan Daerah Bidang KIA, KB, dan Gizi Masyarakat dengan Pendekatan Evidence based Policy: Dimana Peran Perguruan Tinggi?

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D ini diharapkan mencapai sesuatu hasil diskusi yang detail dan menukik agar dapat menemukan sinergi yang jauh lebih baik dengan perguruan tinggi, sehingga dapat menemukan intervensi yang efektif yang tentunya didasarkan pada EBM dengan baik. Hal yang menarik dari diskusi ini bahwa pembicara berasal dari latar belakang yang berbeda yakni 2 dari birokrat kementerian dan 1 pembicara dari pusat studi yang kemudian dibahas oleh 2 Dekan yang berasal dari FK-KMK UGM dan Dekan FKM Universitas Airlangga dan dari UNFPA.

Ir. Doddy Izwardi MA selaku Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI dengan memaparkan pengalaman kerjasamnya dengan lebih detail, menjelaskan mengenai betapa intensnya suatu kerja sama untuk terus dimonitor, dimulai dari kolaborasi Kemenkes dan perguruan tinggi dalam policy development dan program improvement. Disampaikan pula bahwa yang paling penting dalam kerja sama adalah adanya dukungan regulasi sehingga uang/dana yang ada bisa dimaksimalkan, misalnya dengan cara swakelola. Dalam pelaksanaan kerja sama sudah dibentuk subdit yang ditugasi untuk mengontrol penggunaan anggaran sehingga setiap universitas yang tergabung dapat termonitor dengan baik.

Pemaparan dilanjutkan oleh dr. Eni Gustina, MPH selaku Direktur Kesehatan Keluarga, Kemenkes RI yang menekankan bahwa perguruan tinggi merupakan pusat intelektual, memiliki Tri Dharma perguruan tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pangabdian Masyarakat) dapat memberikan kontribusi dalam Agenda Setting dan formulasi kebijakan melalui berbagai riset, ikut aktif dalam perencanaan, dan monitoring serta evaluasi terhadap program kesehatan sehingga Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Politeknik Kesehatan, Akbid dan Akper yang jumlahnya cukup banyak memiliki potensi besar sebagai stakeholder Kementerian Kesehatan  dalam fungsi ini.

Organisasi profesi yang secara terus - menerus mengembangkan intelektualnya juga sangat diharapkan mempunyai kontribusi yang besar terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Di samping itu, peran berbagai lembaga pemikir swasta atau pemerintah (think tank) diperlukan untuk meningkatkan percepatan SDGs. Patut kita sadari bahwa saat ini masih terdapat gap yang ada di masyarakat untuk terus diupayakan, contoh implementasi buku KIA yang merupakan sumber informasi dan edukasi dengan tenaga kesehatan secara bersamaan dalam memberikan pengetahuan kepada ibu hamil belum optimal penggunaannya. Berbeda halnya dengan yang disampaikan oleh Prof Siswanto Agus Wilopo, SU., MSc., ScD yakni membahas bagaimana Pengalaman Perguruan Tinggi dalam bekerja sama dengan Pengambil Kebijakan di KB.

Selaku pembahas Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., SpOG(K).,Ph.D memulai dengan catatan bahwa saat ini  kita masuk pada fase baru, dimana keputusan dan kebijakan tidak hanya dibuat semau pembuat keputusan dan perlu bukti untuk melihat konteks sesungguhnya. Kita juga sampai pada fase dimana suatu kebijakan menjadi komoditas politik dan kebijakan itu disusun atas kemauan partai, diharapkan bahwa pihak yang menyuarakan harus ilmiah dan kontekstual. Harus terdapat keserasian antara hulu (pendidikan) dan hilir (kesehatan). Faktanya, institusi pendidikan tinggi yang membentuk agent of change dalam membuat atau memproduksi dokter dan layak menjadi tempat pendidikan yang mempunyai kesamaaan dan semangat mencetak agen - agen baru. Kerja sama menjadi hal yang pnting dan tidak berpikir lagi tentang kompetisi.

Ditambahkan juga oleh Prof. Tri Martiana (dekan FKM UNAIR) ke depan kajian perlu dilakukan secara sistematik dengan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Perlu adanya regulasi bersama dengan melihat output yang ingin dicapai.  Dilanjutkan oleh Dr Melani Hidayat selaku pembahas bahwa terkadang program tidak menjawab evidence yang ada. Padahal sudah banyak penelitian yang membuktikan. Agar dapat dijaga translasinya dan menjawab permasalahan yang ada di lapangan maka tetap dibutuhkan 1 koordinator sehingga fungsi assurance dalam program dapat dijaga.

Diskusi berlangsung hangat yang kemudian ditutup oleh moderator dengan beberapa catatan yakni bahwa perlu ada pengembangan kebijakan berdasarkan kajian ilmiah, penelitian yang ada tidak berhenti untuk menjadi sebuah jurnal namun sampai ke policy breaf,  Kajian - kajian harus bersifat sistematis agar lebih kuat, ada harmonisasi regulasi dan networking harus dikuatkan.


Reporter: Andriani Yulianti, MPH (PKMK)

KIA 2

Kasus Empirik KIA

Yogyakarta, PKMK UGM. Forum nasional penelitian dan pengembangan KIA, KB dan gizi yang diselenggarakan di Yogyakata membahas kasus emperik KIA dari UGM, UNDIP, dan UI. Prof. dr. Moch Hakimi, Sp.OG, PhD selaku moderator.

dr. Asti Proborini, Sp.A dari UI menyampaikan kasus empirik KIA berjudul “Rawat isap pada bayi bingung puting suatu cara untuk mendukung keberhasilan ASI”. ‘Bingung puting’ merujuk kepada keadaan bayi kesulitan mengkonfigurasikan rongga mulut, membuat pelekatan menetek yang baik terhadap payudara, dan menghisap dengan benar dimana hal - hal tersebut berperan dalam kemampuan bayi menetek ke payudara setelah diberi dot atau putting buatan lainnya. Bayi dikatakan bingung puting apabila menolak menetek pada payudara, menangis rewel dan mendorong payudara dan melepeh puting serta menetek lepas - lepas selama observasi 60 menit.

Bingung puting terjadi karena mekanisme yang berbeda antara menetek langsung ke payudara dan menghisap dengan botol. Pengenalan dini terhadap dot baik berisi susu formula dan ASI perah dapat menyebabkan bingung puting. Dalam sesi ini, disampaikan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui, diantaranya:

  • Mempunyai kebijakan tertulis mengenai pemberian ASI yang diketahui oleh seluruh petugas
  • Melatih semua petugas untuk dapat melaksanakan kebijakan ASI
  • Menginformasikan kepada seluruh wanita hamil mengenai keuntungan dan manajemen Laktasi
  • Menolong ibu menyusui dalam setengah jam pertama kelahiran
  • Menunjukkan kepada ibu bagaimana menyusui dan bagaimana memelihara laktasi meskipun mereka terpisah dari bayinya
  • Tidak memberikan minuman atau makanan apapun selain ASI pada bayi baru lahir, kecuali berindikasi secara medis
  • Melaksanakan rawat gabung agar bayi dan ibu dapat bergabung selama 24 jam sehari
  • Menyusui tanpa jadwal
  • Tidak memberikan dot atau empeng pada bayi
  • Rujuk ibu pada kelompok pendukung ASI bila mereka keluar dari rumah sakit

dr. Setya Wandita Sp.A menyampaikan kasus empirik di RS sardjito tentang upaya survival pada bayi di NICU. Kematian bayi terbanyak di RS Sardjito karena infeksi. Infeksi di rumah sakit dapat dikurangi dengan cara: 1) peningkatan kebersihan tangan; 2) standar nasional untuk prosedur invasif dan perawatannya; 3) peningkatan kebersihan rumah sakit; 4) peningkatan desain rumah sakit; dam 5) memperketat peraturan peresepan antibiotik.

Beberapa langkah yang dilakukan RS Sardjito dalam upaya menurunkan angka infeksi yaitu:

  1. Hand Hygiene
    Terbukti sebagai intervensi untuk menurunkan angka infeksi dan kematian neonatus. Data di Nepal menunjukkan terjadi penurunan kematian neonatus 41% bila penolong persalinan dan ibu melakukan cuci tangan.
  2. ASI
    Manfaat ASI sangat banyak, antara lain ASI berfungsi untuk mencegah 12 - 13% kematian  balita di negara berkembang, kaya antibodi dan lekosit untuk perlindungan terhadap infeksi, membantu mencegah penyakit kuning, memiliki faktor pertumbuhan yang membantu pematangan saluran cerna dan kaya akan vitamin A.
  1. Perawatan metoda kanguru
  2. Prosedur aseptik
  3. Penggunaan antibiotik rasional

dr. Soerjo Hadijono, Sp.OG(K) menyampaikan kasus empirik berjudul “Penerapan holistik care pada penanganan kasus sulit dan kompleks maternal”. Soerjo menuturkan bahwa “upaya akselerasi pencapaian MDGs tidak mungkin hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja, akan tetapi harus bermitra dengan stakehorders yang terkait”. Akselerasi MDG’s harus didukung dengan perbaikan infrastruktur yang akan menunjang akses kepada pelayanan kesehatan. Dukungan pembiayaan dan regulasi dari legislatif di daerah dan pusat, juga sangatlah penting.

Kepedulian swasta dalam bentuk filantropi dari corporate social responsibility ataupun berbagai donor agencies juga sangat diharapkan, tanpa harus menggadaikan rasa profesionalisme dan nasionalisme. Jawa Tengah memberikan perlindungan maksimal pada setiap ibu hamil, melahirkan dan nifas dan mencegah kehamilan yang tidak penting setelah kelahiran anak yang kedua. Jangan hamil kalau tidak ada kepentingannya.


Disarikan Oleh Eva Tirtabayu Hasri S.Kep., MPH dari PPT Narasumber (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Gizi 1Pengalaman Perguruan Tinggi dalam Bekerja Sama dengan Pengambil Kebijakan di Pelayanan Gizi

Berbagai perguruan tinggi di Indonesia, khsususnya Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat telah melaksanakan berbagai penelitian dan program inovasi di bidang gizi masyarakat. Dalam sesi yang dipandu oleh Endang Pamungkas Siwi dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY, terdapat tiga narasumber dari 3 universitas yang berbagai pengalaman mengenai program yang mereka lakukan dalam rangka meningkatkan status gizi masyarakat di Indonesia.

Pembicara pertama adalah dr. Julian Dewantiningrum, MSi.Med, Sp.OG(K) dari  Universitas Diponegoro yang memiliki judul penelitian “Pendekatan PMT Individual Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Perkembangan Janin, Bayi dan Anak: Studi Intervensi Pertumbuhan dan Perkembangan Selama 1000 Hari Pertama Kehidupan”. Dalam studi ini terdapat tiga kelompok baik yang diberi intervensi program, pemberian makanan tambahan (PMT) dan konseling, maupun konseling saja. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada ketiga kelompok ditinjau dari pertumbuhan janin intrauterin berdasarkan USG dan berdasarkan berat bayi lahir.

Dr. Djunaedi Dahlan, MS dari Universitas Hasanuddin membahas peran perguruan tinggi kesehatan dalam optimalisasi 1000 HPK dengan integrasi dan sinergi penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Selama ini, Djunaedi menilai masih terjadi ketidaksesuaian antara pendidikan, kebijakan dan praktek. Universitas Hasanuddin telah memberi dukungan pelayanan gizi - KIA berkelanjutan berbasis keluarga dalam bentuk evidence-based learning (EBL), kolaborasi sinergik antarprofesi dan road map penelitian kesehatan gizi. EBL merupakan kurikulum inovasi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang resmi diluncurkan pada 2016.

Dari Universitas Gadjah Mada, Dr.Toto Sudargo, SKM, M.Kes menjelaskan hasil penelitiannya terkait anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) yaitu dijumpai prevalensi anemia pada remaja putri di kota Yogyakarta sebanyak 12,8%, sedangkan prevalensi KEK 49,5%  dan minimnya pengetahuan tentang anemia oleh remaja putri. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk menambahkan materi pelajaran tentang anemia di kurikulum tingkat SMP dan SMA, menyediakan tablet Fe yang dilengkapi vitamin C dan salut gula serta mencanangkan “Bulan Pemeriksaan Kecacingan Nasional”.


Penulis: Novika Handayani (PKMK UGM)

Presentasi free paper merupakan wadah bagi peserta presentasi oral untuk dapat melakukan demonstrasi terhadap penelitian yang sudah dilakukan. Penyampaian materi disampaikan oleh Rakhmawati Agustina mengenai  Peran Suami Dalam Kesuksesan ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja : Studi Fenomenologi dimana penelitian ini bertujuan untuk  menggali dukungan suami terhadap kesuksesan ibu bekerja memberikan ASI eksklusif dengan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling melalui komunitas menyusui di kota Manado. Hasilnya bahwa dukungan suami memberikan dampak positif pada kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI Eksklusif meskipun harus kembali bekerja. Melalui dukungan tersebut, ibu dapat menghadapi tantangan menyusui di tempat kerja dan mengatur strategi dengan baik agar sukses ASI Eksklusif

Presentan selanjutnya memaparkan Integrasi pelayanan IVA, IMS dan HIV di Puskesams yang disampaikan oleh Sitti Sudrani, tujuannya untuk mengevaluasi integrasi pelayanan IVA, IMS dan HIV di puskesmas. Dengan metode studi kasus pada 5 puskesmas di kota Kendari, dari penelitian tersebut didapatkan bahwa  sasaran layanan adalah wanita usia 15 – 60 tahun yang berkunjung ke puskesmas atau berada di wilayah kerja puskesmas yang mendapat pelayanan di posyandu atau kunjungan rumah pada 5 wilayah kerja puskesmas di kota Kendari. Kegiatan one day service meliputi: pemberian informasi dan konseling kanker serviks, IMS dan HIV, tes IVA, krioterapi jika hasil IVA positif, tes IMS, pengobatan IMS, tes HIV, penyampaian hasil tes serta rujukan ke layanan terapi antiretroviral jika hasil HIV positif. Pelaksana layanan adalah tim yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, laboran dan Petugas RR.

Berbeda halnya dengan Laili Fathiyah yang membahas Peranan Case Manager Maternal dan Perinatal dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di RS Pelni dan meningkatkan kepuasan pasien. Dari data yang disampaikan bahwa angka kematian bayi 0,12% pada 2017 diakibatkan oleh kurangnya komunikasi antara fasilitas kesehatan perujuk dengan RS Pelni untuk persiapan persalinan ibu dan bayi. Sehingga peranan Case manager penting dalam mengintegrasikan pelayanan bagi pasien sehingga pasien tidak mengalami keterlambatan pada pelayanan di RS dan sebagai media komunikasi antara fasilitas kesehatan perujuk dengan RS Pelni.  

Selanjutnya Nurhidayati mempresentasikan program pengawas minum obat (PMO) tablet darah/ ttd pada  ibu hamil (BUMIL) dengan pemberdayaan suami / keluarga di desa Sambelia Kab Lombok Timur . Pelaksanaan Implementasi program dengan sasaran  bumil dan keluarga,  pengumpulan data dari kohort ibu dan buku KIA. Pelaksanaan program 3 tahap yaitu:  1) Sosialisasi PMO TTD ,  sasaran suami bumil, tokoh masyarakat : PKK dan kader  manfaat, bahaya kekurangan zat besi bagi bumil.  2) Menentukan   PMO bagi  bumil. Mengorientasi cara mengkonsumsi PMO, 3) manfaat dan cara mengontrol. Program PMO TTD merupakan upaya melibatkan masyarakat untuk peduli dan berpartipasi dalam menyiapkan kehamilan  dengan hasil ibu dan bayi sehat.

Lebih lanjut dr. MV. Virahayu mempresentasikan Pelanggaran hak asasi dalam pelayanan bidan di Indonesia, dimulainya dengan adanya peningkatan jumlah pelayanan persalinan oleh bidan  di seluruh dunia, tidak menurunkan morbiditas dan mortalitas secara drastis. Pelanggaran hak asasi dan kekerasan oleh bidan menyebabkan morbiditas serta mortalitas, telah banyak diteliti di luar negeri. Artikel ilmiah tentang pelanggaran hak asasi dan praktik kekerasan oleh bidan di Indonesia, belum banyak ditulis. Fokus penulisan artikel ini adalah isu tindakan di luar kewenangan dan pengabaian keselamatan pasien oleh bidan. Disimpulkan bahwa sistem pelayanan kesehatan maternal di Indonesia, memberi peluang  terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Isu keselamatan pasien sudah saatnya menjadi pertimbangan utama dalam pelayanan kesehatan maternal. Promosi kesehatan tentang keselamatan pasien perlu dilakukan terhadap masyarakat. Sekolah bidan perlu terlibat dalam isu - isu keselamatan pasien dalam kesehatan masyarakat.


Reporter:Andriani Yulianti

KB

Evidence Based Tombak Mengatasi Masalah KB 

Yogyakarta, PKMK UGM. Presentasi oral tentang KB telah dilakukan pada 26 Oktober di ruang Yustisia University Club (UC). Berbagai evidence based tentang KB telah dipresentasikan, mulai dari teknologi digital, manajemen anggaran, faktor sosial, dan program community. Kegiatan ini dimoderatori oleh dr. Shinta Prawitasari SpOG.,M.Kes. Presentan berasal dari Stikes Kuningan Garawangi, PKMK FK-KMK UGM, dan Johns Hopkins Center for Communication Programs (CCP).

Dinar Pandan Sari, MA menceritakan tentang evidence based Kekuatan Digital untuk Program Keluarga Berencana di Indonesia. Platform digital adalah pendekatan yang ampuh untuk menjangkau kelompok sasaran, membuat standarisasi konten dan pesan antar platform, bersinergi dan menyesuaikan konten di waktu nyata berdasarkan masukan dan pembelajaran dari reaksi dan interaksi dengan kelompok sasaran. Platform dikenal dengan “Skata”. Skata merupakan inisiatif digital untuk mendukung pemerintah indonesia dalam membangun keuarga melalui perencanaan yang lebih baik. Skata lahir pada 2015 melalui program kerjasama antara Johns Hopkins Center For Communication Program (JHCCP) dan Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Skata berisi beberapa menu, yaitu artikel, kontraspesi, tahapanku, rencanaku, dan cari bidan.

Dr. dr Dwi Handono Sulistyo M.Kes menceritakan tentang evidence based pengembangan model integrasi pemrograman, perencanaan, dan penganggaran kegiatan kesehatan ibu dan keluarga berencana berbasis hak di tingkat kabupaten. Kegiatan telah dilakukan di Lahat, Aceh Barat, dan kabupaten  Malang. Integrasi dalam pemrograman, perencanaan, dan penganggaran kegiatan kesehatan ibu – KB berbasis hak berhasil dilakukan dengan menghilangkan ego sektoral dengan menjadikan penurunan kematian ibu sebagai tujuan akhir bersama, serta  menjadikannya sebagai tanggung jawab kepala daerah melalui rencana penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD).

Yunita Wahyuningrum, S.Sos., MSi menceritakan evidence based faktor sosial penentu penggunaan IUD Implan. Pengetahuan dan peran lingkungan sosial dan penyedia layanan kesehatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan wanita untuk menggunakan MKJP. Wanita perlu dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup terkait dengan MKJP agar mereka dapat memilih metode yang tepat bagi mereka. Konseling petugas kesehatan penting agar wanita Indonesia memiliki serangkaian pilihan kontrasepsi. Studi kami juga menunjukkan pentingnya penjangkauan masyarakat dalam menciptakan permintaan ber-KB.

Optimalisasi Program Kampung Keluarga Berencana (KB) Terhadap Peningkatan Cakupan Penggunaan Alat Kontrasepsi di Kabupaten Kuningan Tahun 2018, disampaikan oleh Siti Nunung Nurjannah. Intervensi program kampung KB optimal meningkatkan cakupan penggunaan alat kontrasepsi karena terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah akseptor sebelum ditetapkan menjadi kampung KB dengan setelah ditetapkan menjadi Kampung KB. Saran, diharapkan kepada pemerintah daerah Kabupaten Kuningan untuk memperluas penetapan kampung KB sebagai strategi peningkatan cakupan penggunaan alat kontrasepsi.

Presentasi Oral Gizi

Dalam sesi yang dimoderatori oleh Dr. rer. nat. dr. BJ Istiti Kandarina, ada lima peneliti yang mempresentasikan hasil penelitian mereka terkait bidang gizi masyarakat.

Presentasi pertama disampaikan oleh Dominikus Raditya Atmaka dari Gizi Kesehatan UGM menjelaskan hasil penelitiannya yang berjudul “Evaluasi Kebijakan Terkait Penanggulangan Pencemaran Logam Berat pada Air minum Situ Cisanti sebagai hulu Sungai Citarum”. Sungai Citarum termasuk dalam 10 sungai terpolusi di dunia. Dari hasil uji, didapatkan kualitas air minum di Situ Cisanti tidak baik. Sembilan sampel memiliki kadar Hg, Fe, merkuri dan COD yang tinggi di atas  batas normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi air minum dari Situ Cisanti tidak disarankan.

Presentan selanjutnya, Evie Soviyati, membahas hubungan pengetahuan makanan cepat saji dengan kejadian dismenore (nyeri haid) pada siswi SMP di kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Dismenore terjadi karena adanya peningkatan zat prostaglandine, yang salah satu zat pemicu prostaglandine terdapat di makanan cepat saji. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pengetahuan makanan cepat saji dengan kejadian dismenore. Penelitian ini merekomendasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di sekolah untuk meminimalisir dampak negatif makanan cepat saji.

Pola makan sehat pada warga usia produktif juga dipaparkan dalam penelitian oleh Rizti Medisa Aqsari  Pola makan tidak sehat menjadi salah satu faktor risiko tingginya angka penyakit degeneratif di Yogyakarta. Pola makan “Pedoman Gizi Seimbang” belum banyak dikenal oleh masyarakat usia produktif di Kota Yogya, sehingga masyarakat memerlukan informasi terkait pola makan sehat dan gizi yang mendalam. Diharapkan pemerintah kota Yogya meningkatkan promosi terkait ini dan melakukan monitoring evaluasi dengan lintas sektor.

Maesaroh, peneliti dari FKM Universitas Gorontalo menghasilkan penelitian dengan hasil adanya hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan status gizi balita, dan adanya hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita pada beberapa puskesmas di Kabupaten Gorontalo. Status gizi balita diperoleh dengan pengukuran menggunakan aplikasi WHO Antro Plus. Penelitian ini merekomendasikan petugas kesehatan lebih berperan dalam memaksimalkan peningkatan pengetahuan orang tua terkait pentingnya ASI eksklusif.

Presentan terakhir adalah Frida Sinaga, yang menyusun model FRIDA atau model prediksi pencegahan stunting berbasis BPCR bagi balita berdasarkan faktor yang terbukti berpengaruh. Dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa pencegahan stunting memerlukan pendampingan guna mensinergikan seluruh rencana aksi, yang melibatkan masyarakat dan aparat desa, bukan hanya sektor kesehatan saja.


Reporter: Novika Handayani

KB 2

 Kasus Empirik KB

Sesi paralel 2 dengan topik Program Keluarga Berencana (KB) membahas aspek isu terkini mengenai hasil penelitian dan program pendukung KB. Acara ini merupakan sesi hari kedua Forum Nasional Kesehatan Ibu dan Anak yang diadakan oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM dan  Kementerian Kesehatan RI di Gadjah Mada University  Club (UC) Hotel UGM.  Kegiatan ini dihadiri oleh 35 peserta yang terdiri dari staf dinas kesehatan berbagai daerah, peneliti KIA, mahasiswa, dan pemerhati kebijakan kesehatan. Pembicara sesi ini adalah dr. Arida Oetami, M.Kes (Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Provinsi DIY), dr. Risanto, Sp.OG(K) (RSUP Dr. Sardjito), dan Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc.,Dip.com (Deputi KBKR BKKBN). Selain itu, sesi paralel hari kedua ini dimoderatori oleh Prof. Siswanto Agus Wilopo, SU.,MSc.,ScD (FK-KMK UGM).

Pembicara pertama, dr. Arida Oetami M.Kes, menjelaskan peranan penting perempuan dalam program keluarga berencana. dr.  Arida mengawali, jumlah penduduk DIY per 2017 yakni 3,7 juta jiwa dengan proporsi 50,54% penduduk perempuan. Ini secara empiris memaparkan bahwa perempuan merupakan kelompok mayoritas penduduk DIY berdasarkan gender. Namun, hal yang mencengangkan, data KPPA 2016 menyebutkan terdapat 7.370 kasus kekerasan dengan 79% korbannya adalah pihak perempuan. Kondisi ini menjadi fokus utama bahwa isu perempuan perlu diatasi secara holistik. Selain itu, dia menambahkan, isu kespro di DIY yang perlu digarisbawahi salah satunya adalah perkawinan usia anak di DIY masih perlu menjadi perhatian lintas sektor. Data menyebutkan, pernikahan usia muda pada kelompok perempuan meningkat di seluruh wilayah DIY (kecuali Gunung Kidul). Kabupaten Bantul dan Kulonprogo menunjukkan peningkatan jumlah pernikahan anak tertinggi (kelompok gender perempuan dan laki -laki). Program spesifik perlu dilaksanakan dalam meningkatkan kualitas kehidupan keluarga muda dengan memperhatikan dimensi kesehatan reproduksi.

Pembicara kedua dilanjutkan oleh dr. Risanto Sp.OG (K) yang merupakan ahli obstetri dan ginekologi  RSUP Dr. Sardjito. Sesi ini banyak membahas tentang isu ledakan jumlah penduduk, kesehatan reproduksi, dan program keluarga berencana. Risanto mengawali, kualitas kesehatan ibu di Indonesia masih mengkhawatirkan dengan jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) 359 per 100.000 kelahiran hidup (tertinggi di ASEAN). Angka ini menjadi koreksi bahwa beberapa langkah lintas sektor perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hidup ibu. Program keluarga berencana adalah salah satu variabel dalam upaya peningkatan kualitas hidup ibu dan kualitas hidup bangsa. Dr. Risanto menjelaskan, IUD pasca salin merupakan salah satu metode efektif KB yang perlu diperhatikan. Hal ini dikarenakan, pemasangan IUD tidak memiliki pengaruh hormonal dibandingkan penggunaan KB suntik dan pil. Dalam presentasinya, hal yang menarik adalah terdapat penurunan pemasangan IUD sejak era JKN dimulai. Berdasarkan beberapa riset, penurunan ini disebabkan oleh tidak adanya klaim untuk pemasangan IUD di RS dan rendahnya tarif pemasangan.

Pembicara ketiga, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.com memaparkan tentang kebijakan program KB-KR dalam mendukung kesehatan reproduksi. Deputi KBKR BKKBN ini mengawali dengan pemaparan PP Nomor 87 Tahun 2014 Tentang Perkembangan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga, dan Sistem Informasi Keluarga. PP tersebut menyebutkan, kebijakan keluarga berencana memiliki tujuan dalam meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi. Tidak dapat dipungkiri, kasus kesehatan reproduksi dan remaja saat ini yakni meningkatnya jumlah  seks pranikah, kehamilan remaja, dan infeksi menular seksual. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya kualitas hidup individu yang mengarah kepada menurunnya produktivitas bangsa. Beberapa program, khususnya berkolaborasi dengan lintas sektor, telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan, khususnya lingkup kesehatan remaja dan reproduksi.

Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh Prof. Siswanto Agus Wilopo. Peserta sangat antusias dalam proses diskus mengenai topik kasus empirik KB  pada level daerah dan nasional. Diskusi ini banyak membahas tentang isu kesehatan reproduksi pada kelompok difabel, program spesifik puskesmas, isu JKN terhadapmenurunnya pemasangan IUD, dan kekerasan pada kaum perempuan. Pembicara dan moderator menyepakati pembangunan bangsa dapat dimulai melalui upaya peningkatan kualitas kesehatan reproduksi serta program keluarga berencana demi pembangunan bangsa yang sehat.


Reporter: Nopryan Ekadinata (PKMK UGM)

Kasus Empirik Gizi

Masalah pertumbuhan anak di Indonesia seperti stunting, dapat mengakibatkan efek jangka panjang yaitu gangguan perkembangan dan kognitif sehingga menurunkan kualitas generasi anak bangsa. Stunting diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis, dimana faktor awal bisa dimulai dari adanya gangguan gizi ibu saat kehamilan.

Dr. dr. Ekawaty, Sp.A(K), MPH menjelaskan hasil penelitiannya yang memperbaharui kurva bayi baru lahir, yang disesuaikan dengan kondisi populasi di Indonesia. Kurva bayi baru lahir ini bertujuan untuk mengetahui kejadian bayi Kecil masa kehamilan (KMK) dan mengidentifikasi bayi dengan risiko tinggi. Indonesia masuk peringkat 10 negara dengan prevalensi tertinggi bayi lahir dengan berat badan rendah dan kecil masa kehamilan. Apabila menggunakan kurva bayi baru lahir yang selama ini dipakai di dunia, angka bayi KMK menjadi lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, kurva yang sudah ter-update ini menjadi representatif bila diaplikasikan di negara berkembang seperti Indonesia.

Prof. dr. Jose RL Batubara, PhD, Sp.A(K) dari Universitas Indonesia juga menekankan pentingnya memonitor pertumbuhan anak secara berkala. Pengukuran harus dilakukan secara tepat dan diinterpretasikan dengan benar. Dari hasil pengukuran, diharapkan segera ada rencana tindak lanjut dan investigasi bila diperlukan. Tubuh anak yang pendek tidak seluruhnya dikatakan stunting. Maka, harus dicari penyebab anak pendek, apabila ada suatu sindrom, gangguan hormon pertumbuhan atau penyakit tertentu, anak pendek tidak dapat  dikategorikan stunting.

Kualitas tumbuh kembang anak juga ditentukan dari kondisi ibu saat hamil. drDetty, Nurdiati, Sp.OG (K), MPH, PhD menjelaskan persiapan prakonsepsi untuk mencegah stunting salah satunya dengan konsumsi makanan bergizi dan suplementasi mikronutrien. Pemeriksaan yang tepat selama ibu hamil juga akan mempersiapkan kondisi bayi baru lahir yang lebih baik. Saat ini, sedang berjalan penelitian pemberian suplementasi mikronutrien dalam pencegahan stunting.


Reporter: Novika Handayani


 

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Jl. Medika - depan LPPT UGM, Senolowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

LIHAT DIPETA >

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2