Jakarta - Dewasa ini, memberikan anak-anak smartphone atau gadget lain saat para orang tua mengobrol agar sang anak tetap kalem bukan jadi hal yang aneh lagi.

Setelah fenomena ini berlangsung, ada beberapa sugesti yang menyebutkan screen time, atau waktu dimana seseorang menatap layar gadget entah untuk bermain atau menonton, berpengaruh buruk terhadap otak anak, hingga bisa merubah struktur otaknya.

Namun ternyata, sugesti itu tidak sepenuhnya benar.

Studi teranyar dari Universitas Oxford yang dipublikasikan di Nature Human Behaviour menyebutkan, screen time untuk anak tidak berbahaya, dan hampir tidak ada efek psikologisnya bagi kesehatan si kecil, dilansir dari Ubergizmo, Senin (13/5/2019).

Kemudian, penelitian Lydia Denworth yang dipublikasikan di Scientific American mencatat, teknologi tidak berpengaruh buruk pada kondisi emosional anak.

Apakah anak menjadi lebih depresi, punya keinginan bunuh diri, lebih terisolasi, jawabannya ternyata tidak. Jadi, para orang tua tidak perlu khawatir anak akan menjadi 'beringas' karena smartphone.

Meski begitu, orang tua tetap tidak boleh begitu saja memberikan screen time pada anak.

Meski tidak memberikan dampak buruk, itu hanya akan terjadi jika orang tua memberi porsi screen time yang pas. Lain halnya jika sang anak sudah kecanduan, maka kejadian mengerikan yang tidak terbayang bisa saja terjadi.

Untungnya, beberapa agensi teknologi raksasa seperti Apple dan Google telah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Mereka membenamkan fitur yang membantu para orang tua mengontrol kapan sang anak harus bermain smartphone dan kapan ia harus berhenti.

Apple Ungkap Alasan Cabut Aplikasi yang Memonitor Screen Time

Ilustrasi: Selain menjadi toko ritel pertama di Asia Tenggara, Apple Store ini juga menjadi toko pertama yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan (sumber : bgr.com)Liputan6.com, Jakarta - Apple sempat dikritik karena mencabut sejumlah aplikasi parental control dari toko aplikasinya, App Store.

Aplikasi ini, memang berfungsi membantu orang tua untuk memonitor screen time alias jumlah berapa banyak waktu anak yang dihabiskan saat memegang iPhone. 

Karena kritikan semakin banyak, Apple pun buka suara dan menyatakan alasan mengapa mereka mencabut aplikasi-aplikasi tersebut.

Dilansir Geek pada Selasa (30/4/2019), alasan Apple menghapus aplikasi-aplikasi ini tak lain karena aplikasi tersebut berisiko terhadap keamanan dan privasi penggunanya.

"Kami selalu percaya kalau orang tua memiliki alat khusus untuk mengatur pemakaian perangkat anak-anaknya. Namun, beberapa alat ini malah berpotensi mengekspos riwayat browsing pengguna, lokasi, dan akun email ke pihak ketiga," ujar perusahaan asal Cupertino, Amerika Serikat (AS) ini.

"Dari tahun lalu, kami sadar kalau beberapa aplikasi parental control menggunakan teknologi canggih bernama Mobile Device Management atau MDM," jelas Apple.

"MDM memberikan kontrol pihak ketiga dan akses kepada perangkat dan informasi sensitif seperti lokasi, penggunaan aplikasi, akun email, izin pemakaian kamera, dan riwayat browsing," lanjutnya.


Sumber: https://www.liputan6.com/tekno/read/3963320/studi-lama-menatap-layar-gadget-tidak-sepenuhnya-buruk-bagi-anak

TEMPO.CO, Jakarta - Mendiagnosa anak dengan autisme dapat dilakukan sedini mungkin. President Autism Speak, Angela Geiger mengatakan gejala autisme dapat dideteksi sejak anak berumur 6 bulan.

Angela Geiger menjelaskan kini banyak negara yang mulai mengkampanyekan autisme sebagai ragam disabilitas mental dan intelektual ketimbang menganggapnya sebagai penyakit. "Dan kami fokus pada percepatan diagnosa daripada menganggap autisme sebagai penyakit," ujar Angela Geiger seperti dikutip dari CBS New York, Minggu 31 Maret 2019.

Menurut Angela Geiger, autisme bukan kelainan, melainkan keterbatasan seseorang dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. "Autisme adalah sebuah spektrum, yaitu gejala dan keadaan yang dialami setiap individu akan berbeda-beda," ujar Geiger.

Jakarta - Hypnobirthing merupakan salah satu metode yang digunakan dalam proses persalinan. Namun, masih banyak ibu yang belum mengetahui lebih jelas mengenai metode ini.

Seperti yang dilansir oleh mom.me, Hypnobirthing adalah sebuah metode untuk menghipnotis diri sendiri dengan bantuan seorang profesional untuk bisa melewati rasa sakit dan stres saat melahirkan.

Hypnobirthing memang dirancang untuk bisa membantu wanita melahirkan dengan cara yang alami atau normal. Demi menghindari rasa sakit saat proses persalinan, banyak ibu yang memilih metode ini.

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Jl. Medika - depan LPPT UGM, Senolowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

LIHAT DIPETA >

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2