25 July

Situasi KIA Kabupaten Banyumas

Written by 

Kemitraan yang dilakukan oleh PKMK FK - KMK UGM bersama dengan Yayasan Project HOPE  yakni melakukan analisis situasi KIA akan memberikan pemahaman dan gambaran luas tentang situasi KIA saat ini di Kabupaten Banyumas dalam hal program Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak. Analisis situasi akan digunakan untuk memberikan dasar bukti - informasi dalam merumuskan rencana peningkatan skala strategis di masa depan dengan memeriksa ketersediaan dan intervensi layanan KIA dari tiga perspektif yaitu tingkat masyarakat, penyedia layanan kesehatan, dan regulator daerah (dinas kesehatan kabupaten).

Sehingga perlu mengidentifikasi dan mengumpulkan data tentang situasi saat ini dan pelajaran yang dapat diambil untuk menemukan praktik terbaik dan kesenjangan yang ada.  Dengan demikian, akan dikembangkan rencana strategis inovatif yang komprehensif untuk meningkatkan kapasitas keterampilan staf dinas kesehatan kabupaten, kapasitas penyedia layanan kesehatan dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan implementasinya pada program KIA secara efektif dan efisien.

Tim PKMK FK - KMK UGM menemukan beberapa praktik baik yang sudah dilakukan oleh Dinkes Banyumas. Beberapa diantaranya data peran dan upaya yang sudah dilakukan kabupaten Banyumas dalam upaya akselerasi penurunan AKI dan AKB, yaitu:

  1. Dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas
    Dukungan berupa: 1) komitmen bupati Banyumas yang sangat tinggi; 2) adanya Peraturan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Balita (KIBBLA) Nomor 41 Tahun 2014; 3) adanya Keputusan Bupati Banyumas Nomor 73 Tahun 2017 tentang Pembentukan Pokja Penyelamatan Ibu Dan Bayi; 4) Instruksi Bupati Banyumas Nomor 440/3072 Tahun 2017 tentang Upaya Percepatan Penurunan Kematian Ibu Dan Bayi; 5) Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Nomor 73 Tahun 2018 tentang Tim Task Force/Satuan Tugas Khusus Penyelamatan Ibu Dan Bayi; 6) draft instruksi bupati tentang pemanfaatan buku KIA kabupaten Banyumas; dan 7) APBD kabupaten yang pro KIA.
  2. Penghargaan bagi tokoh yang peduli penyelamatan ibu dan bayi.
  3. Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG)

Program 5NG memiliki arti harfiah 'mengintip ibu hamil” yang digagas oleh Gubernur Jawa Tengah dengan dukungan USAID melalui program JALIN yang diluncurkan sejak 2016. Program ini merupakan kegiatan sistematis dan terpadu untuk mengurangi AKI & AKB yang dilakukan pada fase pra hamil, fase kehamilan, fase persalinan, dan fase nifas.

Pada fase pertama pra hamil terdapat 2 terminologi yaitu stop dan tunda. Stop hamil jika ibu dengan usia >35 tahun dan sudah memiliki anak dan tunda jika usia <20 tahun karena kondisi kesehatan belum optimal. Pada fase kedua atau fase hamil ini dapat  dideteksi, didata, dilaporkan secara sistem melalui teknologi informasi. Fase ketiga atau fase persalinan, ibu hamil yang akan melahirkan dikawal dan didampingi. Ibu dengan persalinan normal bersalin di fasilitas kesehatan standar, sedangkan ibu hamil dengan risiko tinggi dirujuk ke rumah sakit dan dipantau “diinceng” oleh PKK/Dasa Wisma dan Masyarakat. Selanjutnya, pada fase keempat atau fase nifas yakni diberikan asuhan keperawatan pasca persalinan baik oleh dokter/bidan/perawat dan dipantau oleh PKK/Dasa Wisma dan Masyarakat. Implementasi dari program 5NG di Banyumas dilakukan melalui beberapa fase.

Fase pra hamil:

  • Bimbingan perkawinan pra nikah remaja usia nikah, kerjasama dengan Kemenag dan perguruan tinggi
  • Kelas remaja sehat, memperkenalkan buku KIA pada remaja, menonton film bersama tentang kematian ibu dan menyusun plan of live
  • Penyuluhan Kespro di sekolah - sekolah
  • Cetak buku saku calon pengantin (catin) dengan APBD dan dibagikan cuma - cuma
  • Cek anemia untuk remaja

Fase kehamilan:

  • Bupati dan POGI nginceng wong meteng ke puskesmas, ketua POGI dan IDAI membuat SK ke POGI tentang pembagian wilayah kecamatan binaan oleh DSOG dan DSA
  • POGI secara pro aktif memanfaatkan buku KIA sebagai alat pencatatan, monitoring dan evaluasi KIA
  • Kampanye pemanfaatan buku KIA tingkat kabupaten
  • Inovasi, kampanye dan penggalangan komitmen pemanfaatan buku KIA tingkat kecamatan
  • Kampanye dan bedah buku KIA pada, faskes, linsek dan kader di puskesmas
  • Publikasi buku KIA di setiap media cetak, online dan radio (difasilitasi bagian humas setda Banyumas)
  • Media kampanye melibatkan jejaring dan CSR perusahaan
  • Kelas ibu di 331 desa dengan dana BOK dan ADD
  • Inovasi kelas keluarga (melibatkan suami dan keluarga), kelas mbah ASI dengan buku KIA
  • Penguatan kelas ibu hamil KEK dan Anemia dengan dana BOK stunting kabupaten Banyumas
  • Bidan surveilans KIA nginceng wong meteng di perkotaan
  • Dinkes kab membagikan buku KIA ke seluruh institusi pelayanan dan pendidikan kesehatan (OSOC)
  • Pendampingan buku KIA oleh poltekkes di kelas/pembelajaran
  • Dosen, mahasiswa dan ibu hamil melakukan program pendampingan bumil, maca buku KIA sedina selembar
  • Pembentukkan puskesmas ramah anak dimulai 2018
  • Pendataan Bumil Risti dan rujukan dengan aplikasi SijariEMAS dan akan diintegrasikan dengan aplikasi 5NG
  • SijariEMAS

SijariEMAS merupakan singkatan dari Sistem Informasi dan Komunikasi Jejaring Rujukan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal yang dikembangkan oleh Proyek EMAS sejak 2013. Sistem informasi ini memuat data biodata pasien, alamat pasien, diagnosa pasien hingga e-AMP. Sistem informasi ini dirancang terpadu khusus untuk mengoptimalkan proses pertukaran informasi dan komunikasi rujukan gawat darurat ibu dan bayi baru lahir agar rujukan dapat menjadi lebih efektif dan efisien.

Data yang terkumpul melalui SijariEMAS juga memuat data Ibu hamil resti se -Kabupaten Banyumas yang dapat diakses setiap saat oleh Tim Kesga Dinas Kesehatan karena data akan otomatis ter - update jika ada Ibu hamil yang melakukan ANC di Fasyankes.

  • Saskia Gotak (sistem informasi go O kematian ibu dan anak)

Saskia Gotak (sistem informasi go O kematian ibu dan anak), telah  diimplementasikan sejak Tahun 2018 namun data yang tersaji hanya menggambarkan 1 puskesmas saja yakni Puskesmas Kebasen, kecamatan Kebasen.

Fase persalinan

  • Pengembangan replikasi program penyelamatan ibu dan bayi dan puskesmas mampu persalinan: semua puskesmas sudah tereplikasi dengan dana BLUD dan APBD 2016
  • Kesepakatan bersama jejaring sistem rujukan maternal dan neonatal kabupaten Banyumas
  • Sistem rujukan oleh bidan dan  tenaga kesehatan di pelayan tingkat kecamatan
  • AMP di level Puskesmas, RS dan Dinas Kesehatan
  • Pendampingan oleh dokter spesialist anak ke puskesmas sebagai wujud pembinaan wilayah oleh IDAI tentang penatalaksanaan Asfiksia penyebab kematian bayi dan pemantauan tumbuh kembang balita 
  • Standarisasi ruang persalinan di puskesmas (33 puskesmas kategori mampu salin)
  • Uji ketrampilan klinis rutin 3 bulan sekali/ skill assessment dan mentoring replikasi puskesmas oleh mentor dalam upaya pelayanan persalinan standar di puskesmas dan rumah sakit
  • Forum Masyarakat Madani (FMM) yang menggerakan masyarakat untuk mengumpulkan dana untuk membantu ibu bersalin

Fase nifas:

  • Nakes nginceng/mendampingi ibu nifas dan bayi baru lahir
  • Kunjungan nifas dengan buku KIA dan kunjungan bayi menggunakan pedoman MTBM

Penulis: Andriani Yulianti, MPH

Read 311 times Last modified on Thursday, 25 July 2019 08:54
Rate this item
(0 votes)

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Jl. Medika - depan LPPT UGM, Senolowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

LIHAT DIPETA >

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2