22 March

Reportase Annual Scientific Meeting 2019 Upaya Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Melalui Ketahanan Keluarga

Written by 

PKMK – Yogya. Salah satu masalah yang menjadi sorotan di Indonesia adalah terkait kesehatan ibu dan anak yang dapat dinilai dari angka kematian ibu (AKI) dan anak. Meskipun angka ini sudah mengalami penurunan, namun masih belum memenuhi target. Penyebab utama angka ini sulit diturunkan yaitu tingginya usia pernikahan pertama di bawah 20 tahun dan tingginya angka seks pranikah. Oleh karena itu, salah satu upaya utama mengatasi hal ini yaitu dengan membangun ketahanan keluarga. Topik inilah yang kemudian diangkat menjadi bahan pembicaraan Annual Scientific Meeting 2019 pada Kamis (21/3) di Auditorium Gedung Tahir Lt. 1 FK - KMK UGM.

Penyebab tingginya AKI sebagian besar  menyangkut masalah sosial dan budaya serta perilaku di masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, penting untuk melibatkan berbagai ahli dalam memahami  kehamilan dan persalinan. Salah satu program pemerintah, seperti yang disampaikan dalam keynote speech  Prof. Dr. Yohana S. Yembise, Dipl. Apling, MA selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, adalah kegiatan “he for she” yang difokuskan pada peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan, pengurangan AKI serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Ketahanan keluarga didefinisikan sebagai “kemampuan keluarga dalam mengelola sumber daya yang dimiliki dan menanggulangi masalah yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis keluarga”. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, merumuskan konsep ketahanan keluarga dalam 5  komponen yaitu legalitas perkawinan dan kesetaraan gender sebagai landasan pilar, diikuti dengan ketahanan fisik, ekonomi, sosial psikologi, serta sosial budaya sebagai pilar - pilar yang menopang ketahanan keluarga Indonesia. Kelima komponen tersebut kemudian diukur dengan 24 indikator untuk menentukan indeks ketahanan keluarga. Indeks ketahanan keluarga DI Yogyakarta pada 2018 mencapai 8/10 dengan berbagai intervensi yang telah dilakukan pemerintah. Beberapa kegiatan untuk mendukung peningkatan ketahanan keluarga seperti pendataan, pendidikan kesetaraan gender dalam keluarga, penanganan kekerasan, pemberdayaan ekonomi serta bentuk intervensi lainnya.

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan baik pengetahuan, kemampuan serta nilai moral. Menurut Prof. Dr. Tina Afiatin, M. Si, pendidikan anak sudah dapat dimulai sejak dari masa kandungan yaitu dengan ibu dan ayah memahami kehamilan yang sehat. Pada masa prasekolah, orang tua memiliki fungsi utama guidance dan controlling, termasuk di dalamnya sebagai pemberi dukungan, pemberi disiplin serta pengembangan. Ketika memasuki masa remaja maka fungsi orang tua adalah menerapkan sharing authority, dimana perlu adanya diskusi mengenai konsep keluarga yang akan dibentuk. Pada usia dewasa muda, orang tua kemudian memandirikan anak untuk selanjutnya dapat menopang ketahanan fisik sendiri, contohnya dengan memiliki pekerjaan. Masalah yang sering ditemukan antara orang tua dan anak adalah perilaku generasi yang berbeda. Sebagai orang tua, perlu adanya penyesuaian dengan generasi anak, misalnya dalam dunia maya. Anak milennial akan banyak dipengaruhi oleh kondisi dunia maya, sehingga diharapkan orang tua dapat melakukan pemantauan dan turut aktif memahami dunia maya. Selain antara orang tua dan anak, terkadang ditemukan masalah terkait kondisi kehamilan yang tidak diinginkan, dalam hal ini penting adanya dukungan keluarga dan komunitas, diusahakan tidak ada stigmatisasi, karena akan berisiko untuk generasi berikutnya. Puskesmas juga sudah menyediakan psikolog yang dapat membantu pada konseling remaja atau kehamilan yang tidak diinginkan agar ibu tetap sehat secara fisik dan psikis.

Terkait dengan masalah kesehatan reproduksi yang menjadi salah satu fungsi keluarga, dijelaskan lebih lanjut oleh Prof. Siswanto Agus Wilopo, M.Sc., MD, Sc.D dengan memberikan pengertian terlebih

dahulu mengenai perbedaan perjalanan hidup dan siklus hidup. Perjalanan hidup (life course) merupakan suatu pendekatan multidisiplin untuk memahami kondisi kesehatan mental, fisik dan sosial dengan mengikutsertakan konsep rentang dan tahapan kehidupan, sedangkan siklus hidup (life cycle) lebih merujuk pada perubahan yang terjadi secara serial dari awal kehidupan sampai meninggal. Pada setiap tahapan usia, diperlukan perhatian terkait kesehatan yang berbeda. Hal ini penting, terutama melihat bahwa pelayanan kesehatan remaja dan lansia yang dinilai masih kurang. Kondisi kesehatan reproduksi ini dilakukan secara kontinyu dari tingkat individu serta pelayanan kesehatan. Beberapa bentuk intervensi berdasarkan usia, seperti program 1000 HPK ketika masa bayi dan anak, kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) untuk remaja usia 10 - 19 tahun, program pendidikan prakonsepsi pada usia reproduksi antara 20 - 49 tahun, program bina keluarga lansia untuk usia di atas 45 tahun, serta program kesetaraan gender untuk wanita di segala usia. Salah satu intervensi pemerintah dengan pemberian asuransi kepada wanita hamil yang sudah memiliki banyak anak menjadi salah satu sorotan dalam pembicaraan, namun Prof. Siswanto mengatakan bahwa perlunya masalah ini dilihat dari sisi kemanusiaan yang mengedepankan kualitas yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Apabila terjadi hal seperti ini, maka perlu ditinjau kembali pada tahap sebelumnya yaitu pada tahap konseling yang didapat oleh ibu tersebut.

Intervensi siklus hidup perlu dilakukan sejak awal yaitu dengan preconception care. Berdasarkan penjelasan Prof. dr. Ova Emilia M.Med., Ed., SpOG(K)., PhD, pemeriksaan antenatal care yang sudah berjalan dirasa tidak cukup bahkan terhitung terlambat, sehingga perlu pergeseran paradigma dari antisipasi dan manajemen menjadi promosi kesehatan dan pencegahan, serta perubahan fokus tidak hanya ibu dan anak yang sehat tapi wanita secara keseluruhan juga sehat. Preconception care meliputi pemberian proteksi, mengatasi kondisi kesehatan serta menghindari paparan teratogenik. Pemeriksaan pada wanita sebagai preconception care dapat dilakukan setiap saat, dimana identifikasi faktor risiko serta pemberian konseling yang tepat dapat menurunkan dampak terhadap kesehatan dan kehamilan. Pemeriksaan dapat berupa general check up (GCU), konseling ke poli KB, kontrol bila memiliki penyakit kronis serta pemeriksaan postpartum. WHO menganjurkan intervensi terhadap 3 area yaitu nutrisi, genetik dan pada too early, unwanted and rapid successive pregnancy. Intervensi yang disarankan seperti skrinning anemia, suplementasi besi dan asam folat, family planning, konseling genetik, skrinning karier, hingga intervensi terkait pemberian edukasi bagi anak perempuan maupun laki - laki terkait seksualitas, kesehatan reproduktif dan penggunaan alat kontrasepsi.

Dalam rangka penurunan AKI dan AKB, negara diharapkan turut berperan dalam hal kehamilan, mulai dari edukasi antenatal hingga postnatal care. Bu Diana Setyawati M.HSc, Psy., PhD memberikan contoh yang dialami di Melbourne. Di negara tersebut, pemerintah sangat memperhatikan setiap wanita mulai dari yang berencana untuk hamil dengan menggencarkan preconception care, edukasi pada pihak ibu dan ayah terkait selama kehamilan, termasuk didalamnya adalah sistem rujukan terencana, dan pendampingan yang menyeluruh dari pihak tenaga kesehatan. Melbourne dapat menjadi contoh yang sesuai terkait peran pemerintah dalam kondisi kehamilan. Ketahanan keluarga dapat dilihat dari spiritual dan religiusitas, kehidupan sosial yang positif, adanya komunikasi yang baik dan kebersamaan serta komitmen dan fungsi peran masing-masing anggota. Selain itu, terdapat 10 poin dari skala RK-10 CPMH untuk mendeteksi keluarga yang tangguh, dimana skor 10 berarti keluarga tersebuh berketahanan, skor 6-9 berarti keluarga membutuhkan dukungan sosial, dan bila kurang dari 6 maka keluarga memerlukan intervensi profesional. Remaja yang sehat pun terbentuk dengan keterlibatan dari pihak sekolah, keluarga, tetangga dan faktor makro. Remaja yang sehat dapat dilihat dari sisi akademis dan tampak bersemangat, mampu berekspresi secara fisik dan emosi, perasaan mampu melakukan sesuatu, mampu mengambil keputusan serta sehat secara fisik dan jiwa.

Di era millennial, media memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan opini publik. Media yang kini paling digunakan adalah internet yang sangat mudah diakses dan secara perlahan menggantikan media lainnya. Internet sudah tidak asing lagi dalam sebuah keluarga, terutama bagi anak-anak. Namun disayangkan, bahwa pemberitaan media massa masih sering mengangkat hal negatif, sebagai contoh yaitu masih tersebarnya bias gender dalam masyarakat atau terkadang konten dapat menyebabkan trauma bagi anak. Ir. Roni Primantoro selaku Kadis Kominfo Yogyakarta menjelaskan bahwa sudah terbitaturan terkait konten yang ada, namun penerapannya masih sulit akibat adanya kontra dari pihak yang menuntut kebebasan berekspresi. Oleh karena itu, salah satu intervensi yang diutamakan adalah literasi media dengan pengaturan konten serta penyediaan konten positif, edukasi orang tua sebagai pendidik anak, sosialisasi undang - undang pornografi dan penerapannya serta memfasilitasi penyediaan konten media untuk anak. Kominfo juga telah bekerjasama dengan komunitas netizen untuk meningkatkan literasi media serta mendorong untuk peningkatan pembuatan konten positif sehingga diharapkan dapat menutupi konten negatif. Untuk daerah terpencil, akses untuk internet tetap akan diusahakan, namun yang menjadi prioritas tetap pada literasi edukasi yang harus diajarkan terlebih dahulu sehingga jika akses sudah ada, masyarakat dapat memahami tata cara penggunaan informasi dengan baik.

Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam X mewakili PKK DIY menerangkan terkait peran organisasi sosial, dalam hal ini yaitu Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam mendukung ketahanan keluarga. Prioritas program kesehatan yang dibuat telah mencakup penurunan AKI dan AKB. PKK menilai bahwa keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dapat menjadi barometer bagi kesejahteraan masyarakat secara umum. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh PKK adalah penyuluhan 1000 HPK, gizi, stunting, ASI, IMD, kesehatan lingkungan, PHBS dan berbagai penyuluhan lainnya. Kendala utama yang dihadapi adalah jumlah masyarakat yang sangat banyak, sehingga sejauh ini tetap ada masyarakat yang tidak terjangkau. PKK juga menaruh perhatian pada orang tua tunggal yang ada di masyarakat dengan program - program yang diadakan. Di Yogyakarta, wanita pun tetap dapat mengasuh anak meskipun memiliki karir, hal ini juga sudah didukung dengan adanya tempat penitipan anak hingga ruang laktasi di area - area tertentu.

Intervensi untuk mengurangi AKI dan AKB dapat dilakukan dari area yang paling sederhana yaitu keluarga. Keluarga pun tidak hanya dimulai ketika sudah memiliki anak, namun perhatian terhadap keluarga dapat dimulai dari persiapan untuk membentuk keluarga, kehamilan, persalinan, pendidikan terhadap anak hingga ketika anak menjadi dewasa muda yang mandiri. Selain individu dalam keluarga tersebut, dalam rangka meningkatkan ketahanan keluarga, pemerintah juga diharapkan turut serta dalam pendampingan keluarga melalui program-program serta kebijakan yang dibentuk.


GALERI FOTO KEGIATAN   MATERI KEGIATAN

Reporter : Alvina CBB Simanjuntak 

Read 293 times Last modified on Thursday, 28 March 2019 01:47
Rate this item
(1 Vote)

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2