Kelainan jantung bawaan (KJB) merupakan salah satu kelainan bawaan yang banyak terjadi pada bayi baru lahir. KJB pada bayi sudah dapat dideteksi sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Setelah bayi berusia 20 minggu, apapun kelainan pada jantungnya dapat dideteksi melalui pemeriksaan USG. Namun, meski dapat terdeteksi, KJB tidak dapat diatasi saat bayi masih berada di dalam kandungan. Tindakan terhadap KJB pada bayi baru dapat diputuskan setelah bayi lahir.

Agar KJB tidak terjadi pada bayi Anda, maka Anda sebaiknya melakukan tindakan pencegahan. Meski hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, Anda dapat menghindari faktor risiko KJB, seperti:

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan terdapat dua jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).

Merujuk data yang dipaparkan Kemenkes per 31 Januari 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk dan kanker serviks sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Kaum perempuan, khususnya para ibu, menjadi korban terbanyak saat bencana melanda. Sedangkan, ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan ketika bencana datang.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Lilik Kurniawan mengatakan, biasanya para ibu akan menutup kesempatan menyelamatkan diri untuk menyelamatkan anaknya sendiri.

"Kalau kita lihat memang sifatnya ibu melindungi anak. Kemarin melihat kejadian-kejadian bencana longsor, korbannya ibu dan anak," kata dia di Kantor BMKG, Jakarta, Jumat, 8 Januari 2019.

Khusus ibu hamil, ia mengatakan masuk ke dalam kelompok rentan. Mereka akan membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelamatkan diri saat bencana.

Masalah akan timbul jika orang-orang yang membantu ibu hamil ini tidak ada. Maka dari itu, Lilik mendorong dilakukannya pendidikan khusus bagi para ibu, terutama ibu hamil.

"Mereka akan ditempatkan menjadi fokus untuk mitigasi bencana. Mulai dari perkumpulan wanita hingga turun ke tingkat seperti desa akan menjadi tempat penyebaran informasi kebencanaan. Karena, biasanya informasi akan sulit didapatkan bagi kaum ibu," jelasnya.

Ia pun berharap informasi mengenai kebencanaan bisa disebarluaskan melalui percakapan sehari-hari. "Ketemu bisa obrolin seperti kalau ada gempa aku tinggal di rumahmu, ya, misalnya. Kita harapkan masyarakat mengetahuinya dan menyebarluaskan rencana informasi yang masuk," ujar Lilik.


Sumber: https://www.viva.co.id/

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2