25 January

Buku Saku Peningkatan Kualitas Kesehatan Ibu dan Anak Melalui Ketahanan Keluarga Featured

Written by 

Tujuan Pembangunan Keluarga menurut Undang - Undang 52 Tahun 2009 adalah meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tenteram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin keluarga merupakan komponen terkecil dan menjadi pilar utama dalam pembangunan keluarga. Sebagai gambaran di D. I. Yogyakarta untuk kasus perceraian pada 2015 sebanyak 5.221 kasus, untuk 2016 terjadi 5.492 kasus. Kasus kekerasan perempuan dan anak pada 2015 terjadi 1.497 kasus, sedangkan 2016 terjadi kasus kekerasan perempuan dan anak sebanyak 1.527.

Pada umumya pasangan yang menikah berkeinginan hidup bahagia, jauh dari masalah yang menguras pikiran dan tenaga agar kesehatan mental tetap terjaga. Namun faktanya banyak masalah sosial yang melibatkan individu - individu dan berakar pada lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Banyak kasus yang terjadi di Yogyakarta berakar pada kondisi keluarga yang tidak optimal.

Banyaknya kasus praktis dilatarbelakangi kondisi keluarga yang tidak positif. Masalah kekuatan ekonomi sering dituduh menjadi penyebab masalah perilaku anggota keluarga, namun demikian permasalahan dengan latar belakang keluarga dengan kondisi ekonomi juga tidak dapat dikesampingkan. Dengan kondisi seperti ini dapat diduga ada banyak hal lain yang ikut berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi keluarga.

Jika kita melihat keluarga di era perkembangan teknologi yang pesat dihadapkan pada gaya hidup yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelum 2000. Kecanggihan teknologi menyebabkan perubahan nilai, baik nilai yang diwarnai budaya lokal maupun nilai - nilai sosial. Permasalahan yang muncul terkait penyiaran informasi baik melalui televisi maupun di dunia maya semacam internet dan media sosial sekarang ini sangat tidak terbendung. Anggota masyarakat cenderung mengejar yang mutakhir, yang cepat atau instan, dan menjadi tidak ada motivasi untuk tekun bersusahpayah. Hal ini dapat mengarah pada perilaku yang cenderung tidak antisipatif, dan terburu-buru yang seringkali berakibat fatal. Hubungan antar personal secara langsung tidak lagi dianggap penting karena sudah dapat diwakili dengan media sosial.
Fasilitas teknologi canggih masa kini tidak selalu bermasalah dan dapat mendukung pertukaran informasi dengan cepat. Namun untuk mendapatkan manfaat positif diperlukan kearifan dari sisi pengguna. Kemampuan memilih dari yang memang bermanfaat dan yang kurang bermanfaat sangat diperlukan. Hanya saja banyak kasus yang berawal dari kurangnya pengetahuan dan wawasan dalam menggunakan teknologi yang canggih ini.

Tidak sedikit kasus-kasus yang muncul berawal dari penggunaan teknologi, seperti perselingkuhan, melarikan anak gadis, penipuan online, peretasan tabungan maupun kartu kredit bahkan yang baru. Kesenangan dan kenikmatan dengan cara mudah membawa ke masalah sosial yang seringkali tidak mudah disadari oleh korban yang kurang memiliki wawasan tentang seluk-beluk teknologi informasi yang makin canggih. Dengan demikian, selain permasalahan terkait dengan ekonomi, keluarga juga dihadapkan pada masalah pemanfaatan teknologi informasi, yang mana sangat berpengaruh pada pola pengasuhan, interaksi antar pribadi, dan gaya hidup generasi masa kini.

Permasalahan ketahanan keluarga tidak hanya merupakan tanggung jawab keluaraga pada level mikro, namun perlu upaya sistemik dari elemen pemerintah, masyarakat dan akademisi untuk mewujudkannya. Pemahaman bahwa pembangunan ketahanan keluarga lebih terfokus pada persiapan pranikah, selama ini telah membuat isu ketahanan keluarga terpusat pada sektor atau lembaga tertentu, seperti KUA di bawah Kemenag. Pemahaman bahwa penguatan keluarga juga berawal dari pengendalian penduduk, juga membuat kesan seolah-olah ketahanan keluarga adalah BKKBN.

Badan dunia seperti WHO telah mencanangkan bahwa penguatan kualitas manusia dan keluarga adalah sepanjang rentang kehidupan (WHO, 2014). Dari masa pra konsepsi hingga lansia. Oleh karena itu keterlibatan sektor-sektor dan dinas-dinas lain dalam penguatan keluarga menjadi esensial. Peran dinas kesehatan sebagai contoh, menjadi sangat vital dalam menentukan kualitas generasi masa depan sejak masa pra konsepsi. Melalui puskesmas atau fasilitas kesehatan pratama, dinas kesehatan dapat mewajibkan keluarga yang menginginkan untuk memiliki anak untuk merencanakan kehamilan.

Misalnya dengan program wajib pra konsepsi seperti pemeriksaan kesehatan menyeluruh ibu sebelum kehamilan, persiapan kondisi tubuh ibu sebelum kehamilan, vaksinasi pra kehamilan, dan terapi asam folat sebelum kehamilan. Hal-hal tersebut dapat memperkecil resiko masalah kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan dan meningkatkan kualitas generasi masa depan. Selanjutnya kurikulum antenatal care dapat mengedukasi berbagai program penting untuk menyiapkan keluarga mendidik anak berkualitas, misalnya penekanan pada ASI, dan dorongan pelibatan ayah dalam pengasuhan.

Berikut di bawah ini adalah Buku Saku Ketahanan Keluarga yang telah disusun dan dikembangkan oleh Dinas Pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan pengendalian penduduk (DP3AP2) Provinsi DIY untuk dapat dijadikan sebagai contoh jika Kabupaten/Provinsi lainnya ingin mereplikasi. Pemahaman buku tersebut telah dilengkapi dengan modul - modul praktis dalam menerapkan langkah - langkahnya. Silakan menghubungi pengelola Website ini jika ada yang berminat.

Download Buku Saku 

Penulis:
Andriani Yulianti, MPH dan Dinas Pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan pengendalian penduduk (DP3AP2) Provinsi DIY
Kontak: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Read 423 times Last modified on Monday, 28 January 2019 02:52
Rate this item
(1 Vote)

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2