Panduan tatalaksana terapi ARV untuk dewasa pertama kali dibuat oleh WHO pada  2002. Sedangkan penggunaan ARV untuk mencegah transmisi dari ibu ke anak pertama kali dilakukan pada  2004. Dari panduan yang sudah ada terus mengalami perubahan dan perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Sejak  2013, terdapat pembaharuan dari panduan yang sudah ada, selanjutnya pada 2015 hingga 2016 WHO memperbarui panduan tatalaksana penggunaan terapi ARV. Harapannya  semakin banyak penggunaan ARV pada ibu hamil maupun menyusui dapat menurunkan angka transmisi HIV dari ibu ke anak. Sehingga taraf kesehatan ibu dan anak meningkat serta mortalitas ibu dan anak akan menurun.

Ante Natal Care (ANC) merupakan salah satu layanan kesehatan yang penting bagi ibu hamil. ANC dapat berperan dalam mendeteksi dan mengurangi faktor risiko sedini mungkin pada ibu maupun janin. Di Etiopia, penurunan angka mortalitas ibu pada  1990-2013 sebanyak 5%. Meski demikian, jumlah kunjungan ANC ibu hamil di negara tersebut hanya 32%. Hal ini menunjukkan rendahnya kunjungan ANC secara tidak langsung juga mempengaruhi peningkatan angka mortalitas ibu. Berbagai hal berpengaruh baik minat maupun kesadaran ibu untuk melakukan ANC, salah satunya adalah kualitas ANC itu sendiri. Bagaimanakah pengaruh kualitas ANC di beberapa negara Afrika? Apa saja upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan angka kunjungan ANC di beberapa negara Afrika?

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga merupakan program yang diselenggarakan oleh KEMENKES RI untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat, serta sadar akan pentingnya kesehatan. Program ini diharapkan juga mampu menyiasati permasalahan akses ke pelayanan kesehatan yang masih sulit dijangkau di beberapa tempat. Program ini merupakan program lanjutan dari adanya program kunjungan Puskesmas yang telah dilaksanakan sebelumnya. Bertepatan dengan hari kesehatan nasional ke-53 pada 12 November 2017 ini, pemerintah juga meluncurkan gerakan masyarakat hidup  sehat (GERMAS) untuk dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dengan adanya kerjasama dari berbagai sektor.

Salah satu target dalam SDGs adalah eradikasi campak dan rubella utamanya pada anak-anak. Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes menargetkan untuk menyelesaikan masalah tersebut pada 2020. Demi terwujudnya tujuan tersebu,t pemerintah mulai melakukan kampanye imunisasi campak dan rubella dimulai dari Jawa. Kampanye ini mulai dilakukan pada Agustus-September lalu di seluruh wilayah di Jawa. Sasaran program ini adalah anak dari usia 9 bulan- 15 tahun. Pada Agustus, imunisasi juga mulai dilakukan di sekolah-sekolah dan pada bulan September di posyandu, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lainnya. Program ini akan dipantau dan dievaluasi oleh kemenkes dan WHO agar setidaknya 95% anak tervaksinasi. Selanjutnya bagi wilayah di luar Jawa akan dilakukan kampanye dan imunisasi pada Agustus-September 2018.

Anak yang sehat merupakan salah satu tujuan dari SDGs. Target utamanya adalah menurunkan angka kematian neonatal hingga 12 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita hingga 25 per 1000 kelahiran hidup. Status imunitas yang belum baik membuat anak, utamanya bayi lebih rentan terserang penyakit daripada orang dewasa. Meski sudah tersedia berbagai fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan life-safing namun tidak semua anak/ keluarga dapat mengakses layanan tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan geografis. Salah satu upaya meningkatkan status kesehatan anak dari Kemenkes, dengan membentuk bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Demi mendukung upaya tersebut diperlukan juga peran masyarakat atau komunitas di masing-masing wilayah.

Page 2 of 3

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Dies MMR & PKMK