Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga merupakan program yang diselenggarakan oleh KEMENKES RI untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berperilaku sehat, hidup dalam lingkungan yang sehat, serta sadar akan pentingnya kesehatan. Program ini diharapkan juga mampu menyiasati permasalahan akses ke pelayanan kesehatan yang masih sulit dijangkau di beberapa tempat. Program ini merupakan program lanjutan dari adanya program kunjungan Puskesmas yang telah dilaksanakan sebelumnya. Bertepatan dengan hari kesehatan nasional ke-53 pada 12 November 2017 ini, pemerintah juga meluncurkan gerakan masyarakat hidup  sehat (GERMAS) untuk dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dengan adanya kerjasama dari berbagai sektor.

Salah satu target dalam SDGs adalah eradikasi campak dan rubella utamanya pada anak-anak. Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes menargetkan untuk menyelesaikan masalah tersebut pada 2020. Demi terwujudnya tujuan tersebu,t pemerintah mulai melakukan kampanye imunisasi campak dan rubella dimulai dari Jawa. Kampanye ini mulai dilakukan pada Agustus-September lalu di seluruh wilayah di Jawa. Sasaran program ini adalah anak dari usia 9 bulan- 15 tahun. Pada Agustus, imunisasi juga mulai dilakukan di sekolah-sekolah dan pada bulan September di posyandu, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lainnya. Program ini akan dipantau dan dievaluasi oleh kemenkes dan WHO agar setidaknya 95% anak tervaksinasi. Selanjutnya bagi wilayah di luar Jawa akan dilakukan kampanye dan imunisasi pada Agustus-September 2018.

Anak yang sehat merupakan salah satu tujuan dari SDGs. Target utamanya adalah menurunkan angka kematian neonatal hingga 12 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita hingga 25 per 1000 kelahiran hidup. Status imunitas yang belum baik membuat anak, utamanya bayi lebih rentan terserang penyakit daripada orang dewasa. Meski sudah tersedia berbagai fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan life-safing namun tidak semua anak/ keluarga dapat mengakses layanan tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan geografis. Salah satu upaya meningkatkan status kesehatan anak dari Kemenkes, dengan membentuk bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Demi mendukung upaya tersebut diperlukan juga peran masyarakat atau komunitas di masing-masing wilayah.

Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan ilmu. Selain keluarga, faktor lingkungan juga berperan banyak dalam tahapan perkembangan anak. Keduanya memiliki dampak yang cukup besar terutama dalam pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan aspek psikologis dan sosial (personalitas) anak. Lingkungan yang kondusif berperan penting dalam pembentukan kehidupan sosial anak. Keluarga khususnya orang tua berperan sebagai penentu pertama perkembangan mental, psikis, sosial, dan fisik dari anak sebelum ke lingkungan masyarakat. Dilihat dari intensitas interaksi dengan anak, mayoritas menyebutkan bahwa ibu memiliki peran yang lebih penting dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak. Seberapa pentingkah peran ibu dalam perkembangan anak?

Ribuan penduduk kehilangan nyawanya karena infeksi selama masa perawatan di rumah sakit. Salah satu media penyebaran infeksi adalah tangan manusia. Jutaan penduduk setiap harinya berjabat tangan dan berinteraksi satu sama lain dengan sentuhan, untuk itu sangat penting dalam menjaga kebersihan tangan sebagai salah satu upaya pemutusan rantai persebaran infeksi. Infeksi tidak hanya disebarkan oleh pasien saja, melainkan juga oleh keluarga pasien, pengunjung pasien, tenaga kesehatan, dan segala hal yang kontak dengan pasien. WHO dan Kemenkes RI telah membuat panduan cuci tangan sebagai upaya penurunan angka kematian akibat infeksi.

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2