13 December

DIFTERI BISA DICEGAH!

Written by 

Difteri pertama kali ditemukan pada 1990 dan baru muncul lagi pada 2009. Kini kasus Difteri kembali mewabah. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Indonesia mulai dilaporkan sejak Januari 2017. Kasusnya hingga November sudah tercatat mencapai 593 kasus dan 32 kasus kematian akibat difteri. Difteri umumnya menyerang anak-anak atau penduduk dengan sistem imun rendah hingga penduduk yang tidak memiliki sistem imun. Meski berbahaya, namun Difteri dapat diatasi dengan imunisasi yang diberikan untuk mencegah penularan ini.

Difteri merupakan infeksi bakteri yang melibatkan selaput lendir di hidung dan tenggorok. Bakteri penyebab difteri adalah Corynebacterium yang bersihat sebagai penghasil racun yang dapat merusak jaringan manusia, utamanya di hidung dan tenggorok. Akhir-akhir ini difteri kembali dilaporkan sebagai kejadian luar biasa karena mulai mewabah lagi setelah 2013. Munculnya wabah ini diduga terjadi karena tiga faktor yakni kembali ditemukannya kasus difteri yang telah lama hilang dalam satu daerah, terjadinya peningkatan kasus hingga 2x lipat dalam satu periode, serta peningkatan kematian akibat penyakit tersebut.

Di Indonesia tercatat 593 kasus dengan 32 kematian selama Januari-November 2017. Namun di Jakarta ditemukan 2 orang meninggal dari 25 kasus. Kasus difteri ini sudah mulai menyebar cukup luas, utamanya di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Selain wilayah Jakarta, akhir-akhir ini difteri banyak juga ditemukan di wilayah Banten dan Jawa Barat. Terdapat 63 kasus dengan 9 kematian di wilayah Banten, dan 132 kasus dengan 13 kematian di wilayah Jawa Barat.

SelamaJanuari - November 2017 tercatat sebanyak 95 kota/ kabupaten dari 20 provinsi di Indonesia melaporkan kasus difteri. Pada Oktober-November 2017 saja, terdapat 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa difteri; antara lain di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenkes terkait peningkatan kasus difteri ini ialah melakukan himbauan kepada masyarakat untuk memeriksa status imunitas anaknya untuk mengetahui apakah status imunitas sudah lengkap sesuai jadwal atau belum. Jika memang belum lengkap, selanjutnya akan diminta untuk melakukan imunisasi difteri. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk berperilaku hidup yang bersih dan sehat, misalnya menggunakan masker bila sedang batuk, segera berobat ke faskes terdekat bila terdapat anggota keluarga yang mengalami demam dan nyeri saat menelan, terutama jika didapatkan adanya selaput putih keabuan di tenggorok.

Gejala Difteri

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Difteri menimbulkan tanda dan gejala berupa demam yang tidak begitu tinggi (38oC), terdapat pseudomembran atau selaput putih ke abu-abuan di tenggorok yang mudah berdarah jika dilepaskan. Selain itu penderita sering mengalami nyeri saat menelan, pembesaran kelenjar getah bening di leher, serta pembengkakan jaringan lunak di leher yang disebut dengan bullneck. Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah sesak napas dan suara mengorok.

Pencegahan Difteri

Difteri dapat menyerang orang yang memiliki  kekebalan rendah atau tidak memiliki kekebalan, terutama anak-anak. Imunisasi merupakan upaya pencegahan utama terjadinya difteri. Indonesia sendiri telah melaksanakan program imunisasi termasuk imunisasi Difteri sejak >5 dasawarsa. Terdapat 3 jenis vaksin untuk imunisasi difteri, yaitu DPT-HB-Hib, DT, dan Td. Ketiga jenis vaksin tersebut diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya, diberikan Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas-1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Cakupan imunisasi sangat menentukan keberhasilan pencegahan difteri. Cakupan minimal yang dibutuhkan agar terdapat keberhasilan dalam pencegahan difteri adalah 95%.  Munculnya KLB Difteri dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu wilayah. Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri. Kelompok rentan ini dapat muncul karena tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi. Padahal dengan dicapainya cakupan imunisasi yang tinggi disertai kualitas layanan imunisasi yang baik, maka keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular termasuk difteri akan tercapai.


SUMBER:

Read 382 times Last modified on Wednesday, 13 December 2017 02:34
Rate this item
(0 votes)
Login to post comments

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2