Gaya hidup masa kini cenderung gemar mengonsumsi makanan instan dan cepat saji, serta minimnya aktivitas fisik. Gaya hidup demikian juga dikenal dengan istilah sedentari, yang menjadi pemicu kematian tertinggi di Tanah Air.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebanyak 24 persen penduduk Indonesia menjalani gaya hidup sedentari lebih dari 6 jam per hari. Kondisi ini mengkhawatirkan karena rentan memicu penyakit tidak menular yang berdampak pada kematian.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyoroti banyaknya anak penderita stunting atau kerdil di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Jokowi mengingatkan agar kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) lebih otimal untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Terutama memberikan gizi tambahan pada anak dan Bayi Dibawah Lima Tahun (Balita).

“Terutama bagi ibu-ibu yang memiliki bayi harus diukur, khusus pertumbuhannya. Jangan sampai anak kita menderita stunting atau kerdil,” katanya, Minggu, 8 April 2018.

She had given birth in the village and died the following day due to complications.

Maternal deaths continue to be the biggest challenge in rural and remote areas where access to basic health services are impossible and the nearest health centre at Itokama is a three hour walk.

This is evident in Barai, a geographically remote area sharing the mountain ranges bordering with Central Province where road access is often inaccessible.

The Barai Plateau covers ten wards, 35 villages and has a population of 8,555 people.

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Dies MMR & PKMK