09 January

Balita Indonesia "Dihantui" Stunting

Written by 

Standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu negara dikatakan mengalami stunting kronis jika prevalensinya di atas 20 persen.


Persoalan stunting atau kekurangan gizi yang ditandai tubuh pendek masih menghantui balita di Indonesia. Prevalensi atau proporsi penderita stuntingdibandingkan populasi di suatu wilayah dalam waktu tertentu tergolong kronis.

Berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016, prevalensi stunting nasional mencapai 27,5 persen. Adapun berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu negara dikatakan mengalami stunting kronis jika prevalensinya di atas 20 persen. 

Stunting umumnya terjadi akibat balita kekurangan asupan penting seperti protein hewani dan nabati serta zat besi. Selain itu, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebabnya.

Penderita stunting berpotensi mengalami perlambatan perkembangan otak. Sementara dalam jangka panjang rentan terhadap serangan penyakit. Oleh karenanya, langkah pencegahan bisa dilakukan dengan cara memantau pertumbuhan balita secara rutin di Posyandu, memberi ASI eksklusif, hingga memenuhi kebutuhan air bersih dan menjaga kebersihan lingkungan.

--https://katadata.co.id/ --

 

Read 537 times Last modified on Wednesday, 10 January 2018 02:17
Rate this item
(0 votes)

Media

https://www.youtube.com/watch?time_continue=3&v=jvO58-Ez_sU

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425 | Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2


Fornas JKKI