06 December

Angka Kematian Ibu di Kota Mojokerto 0, Ini Dia Resepnya

Written by 

Mojokerto (beritajatim.com) - Hingga bulan Oktober 2017, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto mencatat, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Mojokerto 0. Penataran dan lokakarya (Pentaloka) dalam rangka akselarasi penurunan Angka Kematian Ibu - Angka Kematian Bayi (AKI-AKB) dinilai efektif.

Usai membuka Pentaloka ke VI dalam rangka akselari penurunan AKI-AKB di gedung Astoria, Walikota Mojokerto, Mas'ud Yunus mengatakan, dalam rangka mengurangi atau menurunkan angka AKI-AKB, implementasi di Kota Mojokerto yakni di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. 

"Kota Mojokerto, angka AKB sampai bukan Oktober kosong, kemudian angka AKI menurun. Harapannya dilakukan pembinaan kedepan supaya kwalitas SDM di Kota Mojokerto meningkat dimulai dari upaya menumbuhkan bayi sehat lahir dari ibu yang sehat. Yakni melalui konseling, VCT," ungkapnya, Selasa (5/12/2017).

Kepala Dinkes Kota Mojokerto, Christina Indah Wahyu menjelaskan, jika AKI di Kota Mojokerto tahun 2017 0, tahun 2016 1 kasus dan tahun 2015 2 kasus. "Hanya 1 digit, tidak pernah lebih dari 5 digit. Jika lebih dari 5 digit sudah di atas target nasional AKI-AKB sehingga upaya kita bagaimana jangan sampai meninggal," katanya.

Pentalokasi, lanjut Indah, mengawasi dan evaluasi jangan sampai ibu dan bayi meninggal. Sehingga kasus yang sebelumnya meninggal harus dicari tahu penyebabnya, diawasi dan evaluasi terus serta dilakukan langkah antisipasi. Tujuannya agar berat badan bayi yang dilahirkan tidak kurang dari 2,5 kilogram.

"Pengawasan untuk bayi sampai usia 5 tahun dan pengawasan dimulai dari ibu hamil. Jangan sampai kurang gizi, terkena penyakit menular, amenia, ini yang harus dijaga. Diperlukan peran serta semua pihak, bagaimana gizi ibu hamil baik karena masalah utama adalah ekonomi. Dinkes hanya bisa memberikan bantuan susu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kemas) Dinkes Propinsi Jawa Timur, Drg Fitria Dewi mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Kota Mojokerto khususnya Dinkes. "Karena Dinkes masih melaksanakan pentaloka, tidak semua kota/kabupaten di Jatim menindaklanjuti," tuturnya.

Menurutnya, pentaloka merupakan satu cara stategis untuk menurunkan AKI AKB karena diperlukan sinergitas antara masyarakat, dokter dan rumah sakit. Pasalnya, lanjut Drg Fitria, jika dibangun dengan baik, yakni menjalin siraturahim dan komunikasi akan ada tindak lanjut.

"Di Kota Mojokerto, tidak ada kematian sampai bulan Desember. Artinya Dinkes berhasil menekan bahkan tidak ada kematian. Tahun ini, Kota Mojokerto relatif cukup bagus dibanding tahun kemarin. Artinya bisa mempertahankan dan msnjaga, kesehatan di Kota Mojokerto mendapat dukungan dari kepala daerahnya," jelasnya.

Drg Fitria mengungkapkan, jika Walikota Mojokerto interns ke masyarakat dan posyandu di Kota Mojokerto mendapatkan penghargaan nasional. Dukungan Kota Mojokerto terhadap kesehatan menjadi kontribusi di Jatim. Menurutnya, Jember beberapa tahun cukup tinggi dalam AKI, namun untuk AKB masih bergerak.

"Masalah AKI, dari hulu hilir mulai budaya, pendidikan, semua punya pengaruh. Bagaimana peran tokoh masyarakat punya pengaruh di sana, misal rumah sakitnya bagus tapi ada pemahanan di masyarakat jika melahirkan di rumah maka banyak rezekinya sehingga tidak ada yang ke rumah sakit. Disini pentaloka dinilai efektif," pungkasnya.


 -- http://beritajatim.com --

Read 17 times Last modified on Wednesday, 06 December 2017 02:34
Rate this item
(0 votes)
Login to post comments

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada


Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskes rural  aids2