Kesehatan Ibu & Anak

Kesehatan Ibu & Anak


Yogyakarta 05 April 2018, kesehatan-ibuanak.net - Pelaksanaan seminar kepemimpinan kolektif pada hari kedua dibuka dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) yang juga merupakan seorang Bupati Kulon Progo. Hasto memaparkan “Peran sentral pengelolaan KIA terkait leadership-nya’. KIA di indonesia masih menjadi permasalahn besar, dan merupakan indikator pembangunan sebuah wilayah sehingga dibutuhkan peran sentral dari pemimpin wilayah dalam pengelolaan KIA. Hasto  juga menyampaikan data AKI-AKB yang ada di Kulon Progo, yang juga mengalami kenaikan dan penurunan seperti wilayah lainnnya. Permasalahan yang ada di Kulon Progo tercatat terdapat kasus yang dapat dicegah dan tidak dapat dicegah.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyoroti banyaknya anak penderita stunting atau kerdil di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Jokowi mengingatkan agar kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) lebih otimal untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Terutama memberikan gizi tambahan pada anak dan Bayi Dibawah Lima Tahun (Balita).

“Terutama bagi ibu-ibu yang memiliki bayi harus diukur, khusus pertumbuhannya. Jangan sampai anak kita menderita stunting atau kerdil,” katanya, Minggu, 8 April 2018.

She had given birth in the village and died the following day due to complications.

Maternal deaths continue to be the biggest challenge in rural and remote areas where access to basic health services are impossible and the nearest health centre at Itokama is a three hour walk.

This is evident in Barai, a geographically remote area sharing the mountain ranges bordering with Central Province where road access is often inaccessible.

The Barai Plateau covers ten wards, 35 villages and has a population of 8,555 people.


Yogyakarta, 4 April 2018 [kesehetan-ibuanak] -Tingginya angka kematian ibu dan neonatal di Indonesia menjadi isu kunci dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Saat ini, kasus kematian tidak terjadi di rumah atau di fasilitas kesehatan tingkat primer, namun yang terjadi adalah banyaknya kematian di rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya akses menuju ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut sudah cukup baik. Dalam pembukaan seminar pada  hari pertama, Prof.dr.Laksono Trisnantoro, MSc, PhD menekankan pentingnya kepemimpinan kolektif dan tata kelola dalam pelayanan KIA dimana tenaga medis terutama dokter spesialis obsgyn dan spesialis anak, harus menjadi pelaku utamanya. Laksono berharap output dari kegiatan ini adalah munculnya usulan Plan of Action (PoA) dari peserta untuk mendukung strategi tepat dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi.


Kerangka Acuan
Multi-Stakeholder Advisory Body USAID Jalin 2018 Untuk Keselamatan Ibu dan Neonatus


LATAR BELAKANG

Indonesia telah berkembang pesat dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik dalam 20 tahun terakhir. Meskipun demikian, angka kematian ibu di Indonesia masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara, dan angka kematian bayi baru lahir pun masih tinggi untuk sebuah negara yang tergolong berpendapatan menengah. Pendekatan baru dan terobosan diperlukan agar Indonesia mencapai tujuan pembangunan kesehatannya. Hal ini telah ditunjukkan melalui komitmen yang kuat dari Pemerintah Indonesia sebagaimana baru-baru ini tertuang dalam Peraturan Presiden mengenai Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan1 (2017) maupun dalam dokumen Standar Pelayanan Minimal2 (2018). Pelbagai kebijakan baru pun telah diluncurkan sebagai landasan mewujudkan pembangunan di bidang kesehatan, antara lain BPJS-Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (Universal Health Coverage 2014), Program Indonesia Sehat3 (2015) dengan tiga pilarnya serta pendekatan keluarga (PIS-PK 2016), Jaminan Persalinan4 (2011) dengan pemutakhiran skema biaya sejak 2015; dan Standar Pelayanan Minimum Bidang Kesehatan (2016).

Kerjasama USAID untuk Kesehatan Ibu dan Bayi di Indonesia telah dilakukan sejak 1999 dengan fokus ketika itu pada peningkatan keterampilan penolong persalinan melalui program Safe Motherhood. Program yang didukung USAID Indonesia untuk Kesehatan Ibu dan Bayi terus berkembang dengan pendekatan implementasi spesifik terhadap peningkatan pelayanan oleh pelaksana program. Melalui USAID Jalin, program Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (2017-2022), peran dari USAID kini beralih dari implementer intervensi spesifik menjadi fasilitator dan pendukung kemitraan-kemitraan yang akan berkontribusi pada penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Hal tersebut merupakan tanggapan USAID terhadap perkembangan sistem kesehatan dan dinamika pasar di Indonesia. Kemitraankemitraan yang dibangun akan menjalin beragam pemangku kepentingan untuk menumbuhkan inisiatif dan solusi yang relevan bagi konteks lokal, menguatkan keterlibatan sektor publik maupun swasta dalam pembiayaan solusi kesehatan, serta mendorong ketersediaan dan pemanfaatan bukti ilmiah yang dapat diandalkan dan bermutu.

USAID Jalin akan bekerja di enam provinsi, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan; dengan fokus pada enam bidang teknis – mutu layanan, sistem rujukan, tata kelola, perlindungan finansial, manfaat untuk kelompok miskin dan rentan, dan pemanfaatan bukti ilmiah. Proses kemitraan yang dijembatani oleh program ini diharapkan dapat meramu beragam keahlian, praktik cerdas, dan kreativitas pihak-pihak yang berorientasi pada pemecahan masalah dan investasi untuk pembangunan yang ada di nusantara. Oleh karena itu, Jalin perlu membentuk sebuah multi-stakeholder advisory body di tingkat pusat yang mewakili berbagai unsur dan merupakan aktor pembangunan yang berpengaruh, memiliki jejaring yang kuat, dan bersemangat dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia.


¹ Peraturan Presiden Republik Indonesia no. 59 tahun 2017: Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no.
² tahun 2018: Standar Pelayanan Minimal.
³ Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.02.02/MENKES/52/2015: Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 61 tahun 2017: Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2018.


 VISI

Sebuah negara di mana para pemangku kepentingannya terjalin dalam kemitraan yang berkontribusi nyata bagi peningkatan keselamatan ibu dan bayi baru lahir.

MISI

Misi Multistakeholder Advisory Body ini adalah untuk:

  1. Memberikan arahan kepada pelibatan pemangku kepentingan, fasilitasi kemitraan, investasi, dan proses kolaborasi terkait upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir.

  2. Memberikan pandangan untuk memastikan segala intervensi yang dijembatani USAID Jalin didasari pada bukti ilmiah yang paling relevan dan terkini.

  3. Memberikan masukan demi memastikan bahwa intervensi yang didukung oleh USAID Jalin dapat diperluas dan berkelanjutan.

  4. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap proses-proses mewujudkan kemitraan dan investasi di nasional maupun di daerah yang berpotensi membawa dampak yang nyata untuk menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir.

  5. Mendukung upaya Jalin untuk memobilisasi sumber-sumber pembiayaan dalam negeri demi keberlanjutan intervensi keberlangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir.

PERAN

  1. Penasehat: memberikan arahan untuk penentuan prioritas teknis, program, dan investasi finansial.

  2. Perluasan Jejaring: menghubungkan dan memperluas jejaring dengan pemangku kepentingan yang siap berkolaborasi.

  3. Advokasi: turut mempromosikan pentingnya kesehatan ibu dan bayi baru lahir, pemanfaatan bukti ilmiah, peran serta beragam pemangku kepentingan, dan memperluas sumber-sumber pembiayaan untuk kemitraan yang dijalin.

PRINSIP

Multi-stakeholder Advisory Body Jalin adalah sebuah tim independen dan terdiri atas beragam pemangku kepentingan dan sektor yang mendukung terwujudnya kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi baru lahir. Para anggota berinteraksi dalam prinsip saling menghargai masukan dari pelbagai keahlian dan perspektif yang terwakili dalam Tim tersebut.

TATA KELOLA

Multi-stakeholder Advisory Body sekitar 20 orang yang mewakili para pemikir terdepan (thought leaders), pakar-pakar dunia kesehatan, pengelola fasilitas kesehatan, pembuat dan tokoh advokasi kebijakan, pakar ilmu sosial, pimpinan masyarakat madani, pakar komunikasi dan hubungan masyarakat, komunitas seni dan budaya, jejaring filantropi dan bisnis. Seleksi anggota didasarkan pada semangat dan rekam jejak komitmen terhadap kesejahteraan ibu dan anak, keseimbangan gender dan bidang keahlian.

Multi-stakeholder Advisory Body melakukan pertemuan rutin setiap 3 bulan dan dipimpin oleh Ketua dan Wakil Ketua yang akan ditunjuk pada pertemuan perdana. Ketua dan Wakil Ketua akan dirotasi setiap tahun. Periode keanggotaan akan ditentukan dalam rapat Tim Pengarah.

Jalin bertindak sebagai sekretariat yang menyediakan informasi dan bahan-bahan yang diperlukan dalam rapat; mengelola kebutuhan logistik, menyiapkan catatan pertemuan, dan membuka wadah komunikasi, termasuk mengelola grup WhatsApp agar pertukaran informasi berlangsung efisien.

Pada saat diperlukan dan atas permintaan Multi-stakeholder Advisory Body, Jalin dapat mengadakan pertemuan di luar rapat rutin yang melibatkan sebagian dari anggota Tim Pengarah, para pakar terkait baik dari unsur pemerintah, pelaku sektor kesehatan publik dan swasta, asosiasi profesi, akademisi, peneliti, media, kalangan bisnis maupun masyarakat madani.

Selain itu, Jalin akan mengidentifikasi wadah maupun forum yang ada di tingkat nasional maupun daerah fokus yang dapat menjadi pengarah bagi kegiatan USAID Jalin di tingkat provinsi serta berinteraksi dan berjejaring dengan Tim Pengarah Nasional.

LINGKUP TEKNIS

Solusi yang sesuai dengan konteks lokal akan dibangun melalui proses kolaboratif dan interaktif yang difasilitasi oleh Jalin dan terintegrasi dalam ekosistem kesehatan setempat. Intervensi yang akan didukung melalui Jalin adalah yang memiliki potensi keberlanjutan dan dampak yang luas sehingga menjangkau kelompok miskin dan rentan serta berada dalam lingkup teknis sebagai berikut:

Lingkup Teknis  Deskripsi Hasil

Mutu Pelayanan

Meningkatnya mutu layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di fasilitas kesehatan publik maupun swasta.

Sistem Rujukan

Meningkatnya efisiensi dan efektivitas sistem rujukan di masyarakat dan fasilitas kesehatan.

Tata Kelola Lokal

Meningkatnya efektivitas, akuntabilitas, dan responsivitas tata kelola lokal.

Perlindungan Finansial

Meningkatnya perlindungan finansial bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan.

Manfaat bagi kelompok miskin dan rentan

Meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir oleh masyarakat miskin dan rentan.

Pemanfaatan Bukti Ilmiah

Meningkatnya pemanfaatan bukti ilmiah untuk pengambilan keputusan dan advokasi.


KELUARAN

Dengan adanya Multi-stakeholder Advisory Body, USAID Jalin dapat memperluas jangkauan dari solusi dan kemitraan yang dibangun melalui proses kolaborasi di tingkat daerah fokus maupun di pusat. Diharapkan juga dapat berkontribusi dalam mensinergikan upaya lintas-sektor untuk penyusunan kebijakan dan peraturan terkait peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Page 1 of 23

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Dies MMR & PKMK