Penyusunan Exit Strategi 11 RSUD di NTT

Latar Belakang

Program Sister Hospital (SH) sudah memasuki periode ke lima sejak dimulainya pada tahun 2010. Dalam perjalanannya, Program SH membawa dampak baik dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di NTT, terutama di kabupaten-kabupaten yang terlibat dalam program ini. Semua pihak yang terlibat dalam Program SH ini berharap bahwa program dapat berlangsung terus sehingga dampak baik dapat dirasakan terus. Namun sesuai tuntutan program dan alokasi dana yang tersedia, tidak bisa selamanya kegiatan ini didanai oleh AIPMNH. Agar dampak baik ini dapat berlangsung terus perlu diperhatikan strategi-strategi agar kegiatan yang tengah dilakukan dalam Program SH dapat terus berjalan. Perlu dipikirkan exit strategy agar dapat diidentifikasi kegiatan-kegiatan yang potensial untuk terus dilakukan dan sumber pembiayaannya.

Tujuan Menulis Rencana Exit Strategi

Penyusunan exit strategy ini memberikan indikasi kelanjutan suatu program, atau peningkatan suatu kebutuhan program. Kegiatan ini mendorong para pelaksana suatu proyek untuk berpikir bahwa exit strategy adalah suatu rencana kelanggengan (sustainability plan) dari suatu program. Kegiatan penyusunan exit strategy ini bertujuan untuk:

  1. Mengidentifikasi stakeholders program dan syarat-syarat manfaat proyek untuk misi dan aktivitas stakeholders
  2. Menganalisis hasil kegiatan-kegiatan yang ada
  3. Menganalisa evaluasi dalam perpindahan komitmen dan pembiayaan dari AIPMNH ke berbagai pihak (Kemenkes, Dinkes Provinsi, Pemda Kabupaten dan masyarakat) setelah masa terminasi proyek.

Metode Pengumpulan Data

Pelaksanaan kegiatan exit strategy melalui beberapa tahap pelaksanaan kegiatan yang dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

  1. Perencanaan dan persiapan untuk Exit Strategy Assessment, tahap implementasi, dan tahap pelaporan. Pada tahap perencanaan awal ini kegiatan yang dilaksanakan berupa identifikasi bebragai stakeholders program AIPMNH. Kegiatan ini sudah dimulai sejak penulisan di tahun 2011.
  2. Tahap kedua (saat ini kita berada di tahap ini), adalah menyiapkan kegiatan detil untuk perpindahan komitmen dan pembiayaan. Ada 4 model penutupan proyek dalam arti kata pemindahan komitmen dan pembiayaan yang disiapkan yaitu:
    1. Memindahkan ke pemerintah melalui APBN atau APBD. Pendekatan ini merupakan suatu pemasukan ke arus besar pembangunan yang istilahnya adalah mainstreaming;
    2. Mencari donor lain untuk kegiatan di masa depan;
    3. Mengarahkan kegiatan menjadi unit usaha swasta atau komersial; dan
    4. Menutup program. 
      Pendekatan yang dipilih merupakan hasil analisis mendalam dan berbagai wawancara dengan stakehokder terkait.
  3. Tahap ketiga ada merumuskan secara detil jalur exit strategy program AIMPNH. Perumusan secara detil akan dibahas pada pertemuan exit strategy pada tanggal 29 Agustus 2013 di Jakarta.

Secara garis besar disimpulkan bahwa ada kegiatan masa transisi mulai Juli 2013 sampai dengan Juni 2014.

Pengumpulan rencana exit strategy 11 RSUD mulai dilakukan pada tahun 2012 melalui pertemuan yang bertempat di hotel Intercontinental Jakarta. Pada pertemuan ini disampaikan paparan mengenai pentingnya exit strategy untuk menjamin keberlangsungan Program SH di kabupaten. Pada pertemuan ini, 11 tim yang mewakili 11 kabupaten membuat rincian detail mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang selama ini dilakukan dalam program SH serta kegiatan apa yang akan diteruskan bila Program SH ini tidak lagi dibiayai oleh AIPMNH. Dalam pertemuan ini juga didiskusikan kemungkinan sumber pendanaan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang direncanakan akan dilakukan pada tahun-tahun mendatang. Masing-masing tim mengisi form isian yang sudah disiapkan oleh PKMK – FK UGM dan setelah lengkap terisi, form tersebut dikembalikan ke PKMK – FK UGM. Hasil isian form masih berupa ancar-ancar kegiatan dan biaya (serta sumber pembiayaannya) untuk tahun 2013 (Januari – Desember 2013).

Menindaklanjuti pertemuan pada tahun 2012, saat ini masing-masing RSUD diminta untuk mengisi kembali rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2014, serta besaran biaya dan sumber pembiayaannya. Masing-masing RSUD juga diminta untuk mengisi form yang lebih sederhana untuk lebih memudahkan mereka mengisinya. Form isian sudah disiapkan oleh PKMK – FK UGM dan form yang sudah terisi dikirimkan kembali ke PKMK FK UGM.

Proses pengumpulan data exit stategi ini dilakukan sejak 25 Juli hingga 12 Agustus 2013. Menggunakan skype dan telepon dan diskusi berlangsung trimitra antara PKMK FK UGM, Dinkes Propinsi NTT dan RSUD. Tim dari PKMK yang terbagi dalam 3 tim melakukan diskusi dengan 11 RSUD beserta Dinkes Propinsi NTT dengan meminta 11 RSUD untuk mengisi secara rinci item kegiatan dan pembiayaan masing-masing. Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data ini ada berbagai tantangan dan hambatan yang dilalui, diantaranya kendala sarana prasarana, koordinasi, SDM, kesiapan diskusi dan kelengkapan format isian:

  • Sarana Prasarana:
    Tim dari PKMK FK UGM dan Dinkes Propinsi kesulitan menghubungi 11 RSUD menggunakan skype. Satu-satunya RSUD yang bisa berdiskusi menggunakan skype dan lancar adalah RSUD Ende. Kesulitan yang dihadapi terkait dengan sarana prasarana 10 RSUD lainnya, alat yang rusak, ruangan untuk skype tidak ada karena sedang direnovasi, Sim Rumah sakit tidak mendukung untuk dilaksanakan TC (salah satu RS yang tidak mampu membayar speedy sehingga internet dan telepon dicabut/putus karena sudah beberapa bulan belum membayar tagihan telepon).
     
  • Koordinasi
    Sebelum dilakukan diskusi trimitra antara PKMK FK UGM, Dinkes Propinsi dan RSUD, terlebih dahulu dilakukan koordinasi untuk membuat janji apakah RSUD bisa dan ada waktu untuk melakukan diskusi exit strategi. Kesulitan yang dialami adalah saat koordinasi untuk membuat janji yang tadinya sudah disepakati waktu pelaksanaannya, kemudian secara sepihak RSUD mangkir dengan berbagai alasan bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali, sehingga proses diskusi tidak bisa berjalan. Sehingga tim harus membuat jadwal ulang. Bahkan ada tarik ulur antara tim PKMK dan RSUD, ada pengoperan dari staf satu ke staf lainnya.
     
  • SDM
    SDM kurang memahami materi atau pembahasan dalam diskusi, sehingga harus menunggu staf yang paham, sementara orang yang paham cuti, keluar kota, dan terlalu sibuk dengan kegiatan lain, selain itu kendala lainnya adalah SDM di RS yang paham mengenai exit stategi berganti-ganti dan terjadi mutasi dalam waktu cepat.
     
  • Kesiapan Diskusi Via Skype
    Sebelum dilakukan diskusi via skype, tim dari PKMK FK UGM sudah mengirimkan format dan materi diskusi, dengan harapan pada saat diskusi peserta diskusi dari RSUD nantinya mempunyai gambaran dan mengetahui topik apa yang akan dibahas namun kenyataannya masih banyak RSUD yang terkesan cuek, tidak peduli, banyak alasan, tidak semangat/antusias dalam proses ini. Meskipun tim PKMK sudah mengingatkan untuk mempelajari materi-materi yang dikirimkan.
     
  • Kelengkapan Isian Exit Strategi
    Semua RS sudah mengisi dan melengkapi form isian yang diminta, dengan mencantumkan item kegiatan dan sumber pembiayaan, namun untuk sumber pembiayaan tidak seragam, ada yang sudah menggarkan hingga 2019, ada yang hanya tahun 2013, ada yang hanya 2014. Keseragaman format isian yag dikirimkan tidak sama, meskipun tim dari PKMK sudah mengirimkan format isian yang lebih sederhana untuk diisi dan dilengkapi.

Hasil Rencana Exit Strategy

Sebagian besar kabupaten masih akan melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan dalam Program SH sebelumnya. Untuk pembiayaan, sebagian besar kabupaten masih mengharapkan semua sumber pendanaan dari APBD walaupun sebenarnya pendanaan ini dapat digali dari sumber-sumber lain. Selain itu masih ada RSUD yang menaruh harapan kepada AIPMNH untuk menyandang dana kegiatan program SH yang dilakukan. Ada juga RSUD yang sudah melakukan advokasi kepada DPRD terkait exit strategy sehingga dana yang dibutuhkan untuk keberlanjutan program Sister Hospital dapat dicarikan. Kegiatan Sister Hospital yang paling diutamakan untuk mendapat dukungan dana adalah penyediaan dokter spesialis, Monev oleh pihak ketiga dan capacity building. Dari ketiga item ini, yang masih kurang mendapat perhatian adalah kegiatan Monev dan capacity building, sehingga kegiatan tersebut belum dianggarkan dengan optimal. Detail hasil diskusi dapat dilihat pada tabel 1.

Matriks Sumber Pendanaan Exit Strategy 11 RSUD di NTT (Pemantauan Melalui Telekonferensi), silahkan klik

Pembahasan

Sebelas RSUD yang melakukan diskusi exit strategy dengan PKMK FK UGM dan Dinkes Provinsi NTT, menunjukkan antusiasme untuk melanjutkan program Sister Hospital yang sudah berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari beberapa RSUD misalnya Bajawa, Ruteng, Waikabubak dan Kefamenanu yang sudah melakukan advokasi ke daerah dan mendapat kepastian dana untuk melanjutkan kegiatan Sister Hospital. Kondisi ini tidak terlepas dari faktor kepemimpinan baik direktur RSUD maupun Tim Sister Hosiptal dari RS Mitra A. Misalnya, RSUD Ende, yang biasanya cukup proaktif untuk mempersiapkan hal ini menjadi nampak kurang siap karena adanya pergantian direktur. Ini terjadi juga di RSUD Atambua. Sedangkan RSUD Waingapu mengakui kekurangpahaman pimpinan RSUD terkait mekanisme persiapan exit strategy. Kemampuan melakukan advokasi dan bargaining kepada Pemda Kabupaten untuk menyediakan dana untuk keberlanjutan Program Sister Hospital, dibeberapa RSUD, juga masih kurang dimiliki. Selanjutnya rencana exit strategy ini perlu diadvokasi ke Dinkes Provinsi NTT, Dirjen Gizi-KIA, Dirjen BUK, BPPSDM sehingga dapat masuk ke RKA APBD II, RKA APBD I dan RKA Kemenkes tahun 2014.

Sebagian besar RSUD masih mengharapkan sumber pendanaan kepada APBD II padahal sesungguhnya masih banyak sumber pendanaan lain. Ini dimungkinkan karena kekurangpahaman pihak RSUD mengenai sumber-sumber pembiayaan untuk program Sister Hospital. Kekurangpahaman ini menyebabkan RSUD juga menjadi "tidak berani" dan bingung untuk menganggarkan kegiatan esensial dalam program Sister Hospital pada perencanaan keuangan ditahun mendatang.

Rekomendasi

  1. Perlu adanya penguatan kapasitas kepemimpinan terkait wawasan exit strategy sehingga RSUD dapat lebih termotivasi untuk menyusun alternatif pembiayaan exit strategy
  2. Perlu adanya sosialisasi kembali terkait sumber-sumber pendanaan yang bisa digunakan oleh RSUD untuk membiayai kegiatan lanjutan program Sister Hospital
  3. Untuk pendanaan yang sudah diusulkan oleh RSUD namun masih tidak diketahui sumber dananya, perlu bantuan pihak ketiga untuk mencarikan sumber dana

Berikut ini hasil isian form Exit Strategy masing-masing RSUD:

tch

rutengg

bajaw

ende

waikabubakkk

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2017 KIA PKMK UGM

Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates